HOME  ⁄  Lifestyle

Pakar Pariwisata Dorong Agen Perjalanan Susun Paket Wisata Ramah Muslim, Jaminan Halal Harus Berlaku Sepanjang Perjalanan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pakar Pariwisata Dorong Agen Perjalanan Susun Paket Wisata Ramah Muslim, Jaminan Halal Harus Berlaku Sepanjang Perjalanan
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Logo halal di restoran saat pramusaji mengantarkan makanan kepada pelanggan di Kedai Kopitiam, Lumajang, Jawa Timu. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym/pri.)

Pantau - Pakar pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni mendorong agen perjalanan dan operator tur di Indonesia mengembangkan paket wisata ramah muslim dengan memastikan kebutuhan wisatawan terpenuhi sejak awal hingga akhir perjalanan, bukan sekadar mencantumkan label halal dalam promosi.

Menurut Sari, pengembangan wisata ramah muslim harus mengutamakan kepastian layanan, mulai dari makanan halal, fasilitas ibadah, akomodasi, hingga akses informasi yang mudah dijangkau wisatawan.

"Intinya bukan hanya sebagai label halal tour pada brosur, tapi yang paling penting halal assurance through the visitor journey (jaminan halal sepanjang perjalanan wisata)," kata Sari saat dihubungi di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Ia menilai agen perjalanan atau Travel Agent (TA) dan operator tur atau Tour Operator (TO) memiliki peran penting dalam memastikan seluruh kebutuhan wisatawan muslim telah dipetakan sebelum perjalanan dimulai.

Agen Perjalanan Diminta Pastikan Makanan Halal dan Fasilitas Ibadah

Sari menjelaskan penyusunan paket wisata ramah muslim perlu dilakukan melalui perencanaan perjalanan yang memperhatikan kebutuhan wisatawan secara menyeluruh.

Perencanaan tersebut harus mencakup pemilihan restoran dengan status halal yang jelas, pengaturan waktu salat, serta kemudahan akses menuju masjid dan tempat ibadah.

Selain itu, kebersihan fasilitas umum, kenyamanan akomodasi, dan ketersediaan layanan ramah muslim juga perlu menjadi perhatian penyelenggara perjalanan.

Menurutnya, seluruh kebutuhan tersebut sebaiknya dimasukkan dalam rencana perjalanan atau itinerary agar wisatawan mendapatkan kepastian layanan sejak awal.

Paket wisata juga perlu memuat informasi mengenai jadwal salat, lokasi tempat makan dan minum, serta fasilitas pendukung lainnya yang dibutuhkan selama perjalanan.

Sari turut mendorong asosiasi perjalanan bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan pemerintah untuk mengembangkan paket wisata ramah muslim.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu penyelenggara perjalanan menyusun layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan tanpa mengurangi pengalaman berwisata.

Wisata Ramah Muslim Tidak Boleh Membatasi Pengalaman Wisatawan

Sari menegaskan konsep wisata ramah muslim tidak harus diterapkan secara kaku hingga membatasi pilihan aktivitas wisatawan.

Menurutnya, wisatawan muslim tetap dapat menikmati berbagai atraksi, mulai dari wisata pantai, alam, belanja, kebugaran dan kesehatan, hingga kegiatan kreatif.

"Jadi halal itu lebih ke service assurance (jaminan layanan), bukan pembatasan pengalaman wisata," ujar Sari.

Ia menjelaskan pengembangan destinasi tetap perlu mempertahankan karakter dan keunikan masing-masing daerah agar daya tarik wisata tidak berubah.

Sementara itu, layanan pendukung dapat disesuaikan agar lebih inklusif terhadap kebutuhan wisatawan muslim.

"Jadi atraksi itu bersifat universal, cuma servisnya yang menjadi inklusif," katanya.

Sari menambahkan fasilitas seperti tempat wudu yang memperhatikan penggunaan air, layanan khusus Ramadan, serta informasi waktu salat dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata ramah muslim.

Ketersediaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk menciptakan kenyamanan wisatawan tanpa mengubah karakter utama destinasi wisata.

Informasi Wisata Halal Harus Tersedia di Google Maps dan Aplikasi Digital

Selain peningkatan kualitas layanan, Sari menyoroti pentingnya digitalisasi informasi wisata ramah muslim di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, wisatawan semakin mengandalkan platform digital untuk mencari informasi dan menentukan pilihan perjalanan.

Karena itu, informasi mengenai restoran halal, tempat ibadah, hotel, dan fasilitas ramah muslim harus tersedia melalui layanan peta digital serta aplikasi perjalanan.

"Harus ada informasi halal, restoran, tempat ibadah, hotel, juga harus masuk Google Maps, harus bisa masuk dalam aplikasi agen perjalanan daring (OTA) berbasis AI," ujar Sari.

Ia menilai ketersediaan informasi digital menjadi bagian penting dalam memastikan wisatawan dapat menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pengembangan wisata halal juga tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi harus didukung kemudahan akses terhadap informasi yang akurat.

"Jadi tahapannya bukan sekadar sertifikasi halal, tapi juga aksesbilitas terhadap informasi halal dan digital," katanya.

Penguatan Wisata Halal Diharapkan Tingkatkan Daya Saing Pariwisata

Sari menjelaskan pengembangan wisata ramah muslim perlu dilakukan melalui pendekatan yang mencakup beberapa aspek utama.

Aspek tersebut meliputi kepatuhan terhadap ketentuan atau compliance, jaminan kualitas layanan atau quality assurance, kepercayaan pasar atau market confidence, serta daya saing atau competitiveness.

Menurutnya, seluruh aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun layanan wisata yang dapat dipercaya oleh wisatawan muslim.

Dengan memastikan kepastian halal, kualitas fasilitas, serta kemudahan memperoleh informasi digital, agen perjalanan dan operator tur diharapkan mampu mengembangkan paket wisata yang lebih inklusif dan kompetitif.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Aditya Yohan
FLOII 2026