
Pantau - Jepang menghadirkan inovasi wisata kuliner melalui peluncuran Bus Sushi bertingkat dua di Tokyo yang memungkinkan penumpang menikmati sushi sepuasnya dari ban berjalan sambil berkeliling sejumlah destinasi wisata terkenal di ibu kota Jepang mulai Sabtu (10/10/2026).
Bus wisata berkapasitas 20 penumpang tersebut menggabungkan konsep restoran sushi dengan sistem ban berjalan dan perjalanan wisata keliling kota selama sekitar 70 menit.
Pendiri Sushi Bus Inc., Tomoyuki Yano, mengatakan konsep tersebut dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman wisata kuliner yang berbeda dari layanan wisata konvensional.
"Saya ingin mengembangkan model bisnis yang sulit ditiru orang lain," kata Yano sebagaimana dikutip dari laporan Kyodo, Jumat (9/10/2026).
Bus tersebut dilengkapi atap yang dapat dibuka dan ditutup serta menyediakan tempat duduk di lantai dua agar penumpang dapat menikmati makanan sekaligus melihat pemandangan Tokyo.
Bus Sushi Ajak Wisatawan Keliling Ginza dan Menara Tokyo
Perjalanan Bus Sushi dimulai dari lokasi keberangkatan di dekat Stasiun Tokyo sebelum melintasi sejumlah kawasan wisata populer.
Rute perjalanan mencakup kawasan perbelanjaan Ginza serta menawarkan pemandangan Menara Tokyo dan sejumlah lokasi menarik lainnya.
Selama perjalanan, penumpang dapat mengambil hidangan sushi dari piring yang bergerak melalui ban berjalan di lantai dua bus.
Layanan tersebut menawarkan konsep makan sushi sepuasnya selama mengikuti tur wisata.
Harga tiket untuk tempat duduk biasa ditetapkan sebesar 16.000 yen atau sekitar Rp1,8 juta per orang.
Sementara itu, penumpang yang memilih tempat duduk di bagian depan bus dikenakan tarif 20.000 yen atau sekitar Rp2,2 juta.
Posisi tempat duduk di lantai atas memungkinkan wisatawan menikmati suasana kota sambil menyantap hidangan yang disediakan.
Sushi Diantar Menggunakan Lift Khusus dari Lantai Bawah
Dalam kegiatan pratinjau media pada 1 Oktober 2026, pengelola memperlihatkan proses penyajian sushi kepada penumpang di lantai atas.
Staf dapur yang bertugas di lantai pertama menyiapkan piring sushi sebelum mengirimkannya ke lantai dua melalui lift layanan berukuran kecil.
Setelah sampai di lantai atas, staf menempatkan piring-piring tersebut pada ban berjalan agar dapat diambil langsung oleh penumpang.
Sistem tersebut dirancang menyerupai restoran sushi dengan ban berjalan yang banyak ditemukan di Jepang.
Bus juga memiliki tampilan luar yang dihias menyerupai potongan sushi sehingga menarik perhatian pejalan kaki di sepanjang rute perjalanan.
Sejumlah orang dilaporkan terkejut ketika melihat kendaraan tersebut sebelum menyadari bahwa bus itu merupakan layanan wisata kuliner.
Ketika bus berhenti di lampu lalu lintas, staf turut berinteraksi dengan masyarakat sekitar menggunakan papan tanda serta mengajak mereka melambaikan tangan dan mengambil foto.
Pengembangan Bus Sushi Habiskan Lebih dari Rp11 Miliar
Yano mengungkapkan bahwa pengembangan Bus Sushi membutuhkan waktu lebih dari dua tahun dengan biaya melampaui 100 juta yen atau sekitar Rp11,3 miliar.
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan kendaraan tersebut adalah memastikan sistem ban berjalan tetap aman ketika bus bergerak.
Para pengembang melakukan lebih dari 100 pengujian untuk memastikan piring sushi tidak bergeser, termasuk ketika kendaraan melakukan pengereman mendadak.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pengelola menggunakan baki plastik khusus yang dapat dikunci pada ban berjalan.
Baki tersebut berfungsi menjaga posisi piring agar tetap stabil selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, bahan ikan untuk sushi dibeli dalam kondisi sudah dipotong karena proses pengirisan tidak dapat dilakukan secara aman di dalam bus yang bergerak.
Yano menyebut ukuran potongan ikan yang disajikan dibuat lebih besar dibandingkan dengan sushi di restoran ban berjalan pada umumnya.
Menurutnya, hidangan tersebut harus mampu menarik perhatian penumpang yang juga menikmati pemandangan kota selama perjalanan.
Pendiri Bus Sushi Pernah Kembangkan Wisata Bertema Ninja
Sebelum mengembangkan Bus Sushi, Yano telah memiliki pengalaman membangun usaha wisata dengan konsep yang tidak biasa.
Pada 2016, ia mendirikan layanan tur bertema ninja yang kemudian dikembangkan dengan menghadirkan kafe ninja.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari latar belakangnya dalam mengembangkan konsep wisata kuliner bergerak di Tokyo.
Yano mengatakan pemilihan sushi sebagai makanan utama dilakukan setelah mempertimbangkan jenis hidangan yang cocok dikonsumsi selama perjalanan menggunakan bus.
"Ramen terasa terlalu panas dan terlalu berisiko," katanya.
Menurutnya, sushi lebih praktis karena dapat dimakan dalam sekali gigitan menggunakan satu tangan.
Ia juga menyatakan bahwa konsep restoran sushi dengan ban berjalan di dalam bus wisata belum pernah ditawarkan sebelumnya.
Melalui layanan yang mulai beroperasi pada 10 Oktober 2026 tersebut, Sushi Bus Inc. menghadirkan pengalaman baru yang menggabungkan wisata perkotaan, kuliner Jepang, dan sistem penyajian makanan bergerak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




