HOME  ⁄  Lifestyle

Psikolog Bagikan Cara Membantu Orang dengan Masalah Kesehatan Mental, Hindari Ucapan yang Meremehkan Perasaan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Psikolog Bagikan Cara Membantu Orang dengan Masalah Kesehatan Mental, Hindari Ucapan yang Meremehkan Perasaan
Foto: (Sumber :Psikolog memberikan layanan konsultasi kepada pasien di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr).)

Pantau - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie mengingatkan masyarakat agar tidak menghakimi atau meremehkan perasaan seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental, melainkan memberikan dukungan melalui sikap mendengarkan, memahami emosi, dan menjaga kepercayaan.

Efnie menegaskan bahwa respons pertama ketika seseorang mulai menceritakan kondisi psikologisnya sangat menentukan apakah orang tersebut merasa aman untuk melanjutkan cerita.

"Respons pertama kita akan sangat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan ceritanya atau justru kembali menutup diri," kata Efnie kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia dan Himpunan Psikologi Indonesia itu menjelaskan bahwa keterbukaan seseorang mengenai masalah kesehatan mental merupakan bentuk kepercayaan yang perlu dihargai.

Menurutnya, dukungan yang tepat dapat membantu seseorang merasa didengarkan dan tidak menghadapi persoalannya sendirian.

Psikolog Sarankan Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Efnie menjelaskan bahwa langkah pertama membantu seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental adalah memberikan perhatian penuh ketika orang tersebut bercerita.

Pendengar sebaiknya tidak memotong pembicaraan atau terburu-buru menawarkan solusi sebelum memahami persoalan yang disampaikan.

Selain itu, penting memberikan validasi emosional dengan mengakui bahwa perasaan dan pengalaman seseorang layak dipahami.

Validasi emosional bukan berarti menyetujui seluruh pemikiran atau perilaku orang tersebut, melainkan menunjukkan bahwa kondisi emosinya tidak diabaikan.

Efnie memberikan sejumlah contoh kalimat yang dapat digunakan untuk menunjukkan dukungan.

  • "Terima kasih sudah percaya dan mau cerita"
  • "Aku bisa membayangkan ini bukan situasi yang mudah buat kamu"
  • "Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian"
  • "Aku ada di sini kalau kamu membutuhkan teman"
  • "Menurut kamu, apa yang paling bisa aku bantu sekarang?"

Menurut Efnie, seseorang yang sedang bercerita belum tentu membutuhkan nasihat atau jawaban atas persoalannya.

"Tidak semua orang membutuhkan jawaban ketika sedang bercerita. Terkadang, yang paling mereka butuhkan adalah seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa membandingkan, dan menemani tanpa memaksa," katanya.

Ia menyarankan agar pendengar menanyakan bentuk dukungan yang dibutuhkan, baik sekadar mendengarkan, membantu mencari solusi, maupun mendampingi untuk memperoleh pertolongan profesional.

Hindari Kalimat yang Meremehkan Masalah Kesehatan Mental

Efnie mengingatkan bahwa sejumlah ucapan yang terdengar biasa dapat memberikan dampak negatif bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis.

Menurutnya, kalimat yang membandingkan masalah atau menuntut seseorang untuk selalu kuat dapat membuat pengalaman emosionalnya terasa tidak dihargai.

Berikut sejumlah ucapan yang sebaiknya dihindari ketika seseorang menceritakan masalah kesehatan mental.

  • "terlalu berlebihan"
  • "jangan terlalu dipikirkan"
  • "orang lain masalahnya lebih berat"
  • "kurang bersyukur"
  • "harus kuat, jangan lemah"
  • "sudahlah, berpikir positif saja"
  • "Itu cuma ada di pikiran kamu."

"Kalimat-kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud baik, tetapi dapat membuat seseorang merasa emosinya disepelekan dan pengalamannya tidak dipahami," katanya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu menjelaskan bahwa respons semacam itu dapat membuat seseorang semakin enggan menceritakan persoalannya.

Akibatnya, individu yang sedang mengalami masalah kesehatan mental berpotensi merasa sendirian atau memilih menyembunyikan kondisinya.

Jaga Kerahasiaan Cerita dan Kenali Tanda Bahaya

Efnie menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan informasi pribadi yang disampaikan seseorang mengenai kondisi kesehatan mentalnya.

Menurutnya, kepercayaan tersebut harus dihormati selama tidak terdapat risiko serius terhadap keselamatan orang yang bersangkutan maupun orang lain.

Apabila seseorang mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup, pendengar perlu menanggapinya secara serius.

Efnie menyarankan agar orang yang diajak berbicara menanyakan secara langsung apakah individu tersebut memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Langkah berikutnya adalah membantu menghubungkannya dengan tenaga kesehatan mental profesional atau layanan darurat.

Jika terdapat tanda-tanda bahaya, orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental sebaiknya tidak dibiarkan sendirian.

Pendampingan dan akses terhadap pertolongan profesional menjadi langkah penting ketika muncul risiko terhadap keselamatan.

Hari Kesehatan Mental Sedunia Jadi Pengingat Pentingnya Dukungan Sosial

Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober, Efnie mengajak masyarakat membangun lingkungan yang aman bagi orang-orang yang sedang menghadapi tekanan psikologis.

Menurutnya, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi kesulitan hidup, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Keluarga, sahabat, dan teman diharapkan tetap memberikan perhatian ketika seseorang mengalami masa sulit.

"Karena, terkadang satu orang yang benar-benar mau mendengarkan dapat menjadi awal dari perjalanan panjang seseorang menuju pemulihan," katanya.

Efnie mengingatkan bahwa memberikan dukungan tidak selalu berarti harus menyelesaikan seluruh persoalan yang dialami orang lain.

"Dan ingat, kita tidak harus selalu menjadi penyelesai masalah dalam kehidupan orang lain. Terkadang, cukup menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk merasa, didengar, dan diterima," demikian Efnie Indrianie.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026