
Pantau - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan hingga komplikasi serius.
Peringatan tersebut disampaikan Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (12/10/2026).
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Piprim.
Pernyataan IDAI muncul di tengah viralnya informasi mengenai seorang bayi di Surabaya, Jawa Timur, yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya.
Meski demikian, penyebab kematian bayi dalam kasus tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan pemberian telur mentah.
Bahaya Bakteri Salmonella dalam Telur Mentah
IDAI menjelaskan bahwa telur mentah maupun setengah matang berpotensi mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.
Infeksi akibat bakteri tersebut dikenal sebagai salmonelosis dan dapat menyerang siapa saja, termasuk bayi serta anak-anak.
Gejala infeksi Salmonella dapat berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut berisiko menimbulkan kondisi yang lebih berat dibandingkan pada orang dewasa.
IDAI mengingatkan bahwa komplikasi serius dapat terjadi apabila infeksi berkembang dan kondisi anak memburuk.
Karena itu, keamanan bahan makanan dan cara pengolahannya perlu menjadi perhatian utama orang tua maupun pengasuh.
IDAI Anjurkan ASI Eksklusif Selama Enam Bulan
Piprim menegaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
"ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi," ujar dia.
IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
Setelah berusia enam bulan, bayi secara umum mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI).
Pemberian MPASI dilakukan bersamaan dengan kelanjutan menyusui hingga anak berusia dua tahun atau lebih.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia empat bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.
Namun, IDAI menegaskan bahwa pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Telur untuk MPASI Harus Dimasak hingga Matang
IDAI menjelaskan bahwa telur merupakan salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung zat gizi penting bagi pertumbuhan anak.
Telur dapat diperkenalkan sebagai bahan MPASI apabila usia dan kesiapan makan bayi sudah sesuai.
Meski demikian, telur harus diolah dengan benar untuk mengurangi risiko infeksi bakteri.
"Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang," kata Piprim.
Orang tua juga perlu memastikan telur yang digunakan dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan.
Telur yang retak atau rusak sebaiknya tidak digunakan untuk makanan bayi karena berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.
Orang Tua Diminta Menjaga Kebersihan Saat Menyiapkan MPASI
Selain memastikan telur matang sempurna, IDAI mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan selama proses pengolahan makanan bayi.
Orang tua dan pengasuh dianjurkan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan serta memastikan seluruh peralatan makan dalam keadaan bersih.
Pengolahan bahan makanan juga perlu dilakukan dengan memperhatikan risiko kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan yang telah matang.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi kemungkinan masuknya bakteri berbahaya ke dalam makanan yang dikonsumsi bayi.
IDAI juga meminta masyarakat tidak ragu berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki pertanyaan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, maupun kesiapan bayi menerima makanan.
Konsultasi medis diperlukan untuk memastikan jenis dan cara pemberian makanan sesuai dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan masing-masing anak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




