HOME  ⁄  Lifestyle

Dokter Ingatkan Osteoporosis pada Usia di Atas 50 Tahun Bisa Picu Patah Tulang Serius hingga Risiko Kematian

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dokter Ingatkan Osteoporosis pada Usia di Atas 50 Tahun Bisa Picu Patah Tulang Serius hingga Risiko Kematian
Foto: Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra sedang menjelaskan mengenai cara mencegah patah tulang pada pasien osteoporosis.

Pantau - Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dr. Wijaya Johanes Chendra mengingatkan masyarakat berusia di atas 50 tahun untuk mewaspadai osteoporosis karena kondisi pengeroposan tulang tersebut dapat menyebabkan patah tulang serius, kecacatan jangka panjang, hingga meningkatkan risiko kematian pada lansia.

Wijaya menjelaskan bahwa osteoporosis menyebabkan penurunan kepadatan dan kualitas tulang sehingga tulang menjadi rapuh serta lebih mudah mengalami patah tulang.

Penyakit tersebut kerap berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas hingga penderita mengalami patah tulang.

"Secara anatomi dan klinis, patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga lokasi utama yang rentan yaitu panggul atau paha atas, tulang belakang dan pergelangan tangan," kata Wijaya dalam keterangannya di Tangerang, Minggu (18/10/2026).

Menurut dokter dari Siloam Hospital TB Simatupang tersebut, setiap lokasi patah tulang memiliki risiko komplikasi dan kebutuhan penanganan yang berbeda.

Patah Tulang Panggul Akibat Osteoporosis Berisiko Sebabkan Kecacatan

Wijaya mengatakan patah tulang panggul merupakan salah satu komplikasi osteoporosis yang paling berat, terutama pada kelompok lanjut usia.

Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan kemampuan beraktivitas secara mandiri, kecacatan jangka panjang, dan peningkatan risiko kematian.

Penanganan patah tulang panggul umumnya memerlukan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang mengalami kerusakan.

Tindakan operasi dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi kesehatan pasien dinilai memungkinkan.

Sementara itu, patah tulang belakang akibat osteoporosis sering tidak terdiagnosis karena gejalanya tidak selalu langsung dikenali.

Komplikasi tersebut dapat menyebabkan nyeri kronis, perubahan postur tubuh menjadi membungkuk atau kifosis, serta penurunan tinggi badan.

Patah tulang belakang umumnya ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, meskipun tindakan tertentu dapat diperlukan apabila nyeri berat terus berlangsung atau muncul gangguan saraf.

Pada patah tulang pergelangan tangan, operasi dapat dipertimbangkan apabila posisi tulang bergeser atau kondisinya tidak stabil.

Satu dari Tiga Perempuan di Atas 50 Tahun Berisiko Mengalami Patah Tulang

Secara global, diperkirakan lebih dari 500 juta orang hidup dengan osteoporosis.

Sekitar satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun diperkirakan akan mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang.

Di Indonesia, pertambahan jumlah penduduk lanjut usia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan osteoporosis.

Angka osteoporosis di Indonesia diproyeksikan meningkat hingga 135 persen pada 2050.

Wijaya menegaskan bahwa pencegahan penyakit tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan medis.

"Pencegahan dan penanganan osteoporosis tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga perlu didukung oleh perubahan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik yang memberikan pembebanan pada tulang secara aman," ujar Wijaya.

Dokter Anjurkan Jalan Kaki, Naik Tangga, dan Latihan Beban

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Aktivitas dr. Bernadette Laura mengatakan aktivitas fisik yang memberikan beban pada tulang dapat membantu merangsang pembentukan dan pembaruan jaringan tulang.

Latihan fisik yang dilakukan secara tepat juga dapat memperkuat otot, meningkatkan keseimbangan tubuh, dan mengurangi risiko jatuh.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang antara lain berjalan kaki, naik tangga, dan latihan beban.

Jenis olahraga tersebut termasuk latihan pembebanan atau weight-bearing exercise yang membantu mempertahankan kekuatan serta kepadatan tulang.

Bernadette juga menyarankan latihan fleksibilitas untuk mendukung keseimbangan dan mengurangi risiko cedera akibat terjatuh.

"Selain itu penting untuk mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk mencegah risiko jatuh. Bagi pasien osteoporosis, latihan juga harus tetap dilakukan, tetapi jenis dan intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien serta dilakukan secara aman dan terstruktur karena risiko patah tulangnya lebih tinggi," katanya.

Hari Osteoporosis Sedunia Jadi Momentum Pemeriksaan Kesehatan Tulang

Menjelang peringatan Hari Osteoporosis Sedunia pada 20 Oktober, Wijaya mengajak masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan tulang.

Pemeriksaan faktor risiko dan konsultasi medis dinilai penting, khususnya bagi masyarakat berusia di atas 50 tahun.

"Dalam momentum hari osteoporosis sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, kami mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta konsultasi dengan dokter spesialis," katanya.

Pemeriksaan medis dapat membantu mengidentifikasi risiko osteoporosis dan menentukan langkah pencegahan maupun penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Wijaya menekankan pentingnya menggabungkan pemeriksaan kesehatan, pengobatan sesuai kebutuhan, serta aktivitas fisik yang aman untuk mengurangi risiko patah tulang akibat osteoporosis.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026