
Pantau - Perubahan warna, bentuk, dan frekuensi buang air besar (BAB) dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan saluran pencernaan yang perlu diwaspadai, terutama apabila berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain seperti nyeri perut, perdarahan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Dilansir dari laman EatingWell pada Rabu (21/10/2026), terdapat enam perubahan kondisi feses dan kebiasaan buang air besar yang perlu diperhatikan karena dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi.
Perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit serius, tetapi dapat memberikan petunjuk awal mengenai kondisi kesehatan sistem pencernaan seseorang.
Pemeriksaan medis diperlukan apabila perubahan berlangsung berkepanjangan atau disertai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Feses Hitam dan BAB Berdarah Bisa Menjadi Tanda Perdarahan Pencernaan
Tanda pertama yang perlu diwaspadai adalah feses berwarna hitam dengan tekstur lengket menyerupai aspal atau tar.
Kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas, termasuk lambung.
Meski demikian, perubahan warna feses menjadi hitam tidak selalu disebabkan oleh perdarahan karena konsumsi obat-obatan tertentu dan suplemen zat besi juga dapat memengaruhi warnanya.
Feses hitam yang lengket seperti tar, terutama jika disertai tubuh lemas, pusing, atau kondisi fisik yang memburuk, memerlukan pemeriksaan medis segera.
Tanda kedua adalah munculnya darah pada feses atau saat seseorang buang air besar.
Darah berwarna merah dapat berasal dari wasir atau luka pada bagian anus, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan gangguan lain pada saluran pencernaan.
Karena penyebab perdarahan cukup beragam, pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan sumber darah dan menentukan penanganan yang sesuai.
Perdarahan dalam jumlah banyak atau disertai pusing berat, pingsan, maupun kelemahan tubuh memerlukan penanganan darurat.
Diare Berkepanjangan dan BAB pada Malam Hari Perlu Diwaspadai
Tanda ketiga yang perlu diperhatikan adalah diare cair yang berlangsung terus-menerus dan tidak menunjukkan perbaikan.
Diare dapat disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan, efek samping penggunaan obat tertentu, maupun gangguan penyerapan zat gizi.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus apabila disertai tanda dehidrasi, demam, atau nyeri perut berat.
Diare berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Tanda keempat adalah munculnya keinginan buang air besar pada malam hari hingga membuat seseorang terbangun dari tidur.
Keluhan yang terjadi secara berulang dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan saluran pencernaan, termasuk penyakit radang usus.
Beberapa penyakit yang dapat berhubungan dengan kondisi tersebut adalah penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Kedua penyakit tersebut merupakan gangguan peradangan pada saluran pencernaan yang dapat menimbulkan perubahan kebiasaan buang air besar.
Apabila keinginan BAB pada malam hari terjadi berulang, pemeriksaan dokter dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pencernaan tertentu.
BAB Kurang dari Tiga Kali Seminggu Bisa Menandakan Sembelit
Tanda kelima adalah frekuensi buang air besar yang kurang dari tiga kali dalam satu minggu.
Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikasi sembelit atau konstipasi, terutama apabila disertai feses keras dan kesulitan saat mengeluarkannya.
Penderita sembelit juga dapat mengalami sensasi buang air besar yang tidak tuntas meskipun telah selesai menggunakan toilet.
Frekuensi BAB setiap orang dapat berbeda, sehingga penilaian terhadap sembelit juga perlu mempertimbangkan perubahan dari kebiasaan normal masing-masing individu.
Kondisi sembelit yang menetap atau disertai keluhan lain perlu diperiksakan untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
Perubahan Pola BAB yang Menetap Jangan Diabaikan
Tanda keenam adalah perubahan pola buang air besar yang berlangsung terus-menerus, baik dari segi frekuensi, bentuk feses, maupun munculnya dorongan mendesak untuk BAB.
Perubahan tersebut perlu mendapat perhatian lebih apabila disertai nyeri perut atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Gangguan pola BAB yang menetap dapat berkaitan dengan berbagai kondisi kesehatan sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Meski demikian, tidak semua perubahan kebiasaan buang air besar menunjukkan adanya penyakit serius.
Pola makan, jumlah cairan yang dikonsumsi, penggunaan obat-obatan, dan aktivitas fisik sehari-hari dapat memengaruhi bentuk maupun frekuensi feses.
Perubahan asupan makanan atau kebiasaan harian juga dapat menyebabkan kondisi feses berbeda dari biasanya.
Namun, apabila perubahan berlangsung lama atau disertai gejala yang tidak biasa, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pemeriksaan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dapat membantu mengidentifikasi gangguan saluran pencernaan dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.
Mengenali perubahan warna, tekstur, serta kebiasaan buang air besar menjadi salah satu langkah untuk mengetahui kondisi kesehatan pencernaan dan mendapatkan penanganan yang tepat apabila ditemukan kelainan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




