
Pantau - Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) yang baru, Anthonius Jimmy Silalahi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi pers Indonesia dalam menjaga kualitas jurnalistik, independensi, dan kepercayaan publik di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Jimmy menilai perkembangan AI telah mengubah cara media memproduksi dan mendistribusikan berita, sementara industri pers masih menghadapi berbagai persoalan mendasar terkait profesionalisme dan kredibilitas pemberitaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Jimmy dalam acara serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS di Jakarta, Rabu (21/10/2026), sebagaimana dikutip dari siaran pers LPDS pada Kamis (22/10/2026).
“Pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita. Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik,” kata Jimmy.
AI Ubah Industri Media, LPDS Tekankan Pentingnya Etika Jurnalistik
Jimmy menjelaskan bahwa masyarakat saat ini membutuhkan media yang tidak hanya mampu menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga menjamin akurasi, keberimbangan, dan nilai edukasi dalam setiap pemberitaan.
Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin penting ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang membutuhkan informasi tepercaya.
Ia menegaskan bahwa LPDS akan tetap memprioritaskan pendidikan dan pelatihan jurnalistik sebagai langkah meningkatkan kompetensi wartawan di Indonesia.
Namun, program pendidikan tersebut juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kegiatan jurnalistik.
Jimmy menilai pelatihan AI bagi wartawan tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan perangkat teknologi untuk menulis berita atau melakukan verifikasi fakta.
Wartawan juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami prinsip jurnalistik, serta menerapkan etika profesi dalam menjalankan tugasnya.
“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” ujarnya.
Dewan Pers Soroti Banjir Informasi dan Disrupsi Algoritma
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, turut menyoroti berbagai tantangan yang muncul seiring pertumbuhan industri pers digital di Indonesia.
Menurut Totok, perkembangan teknologi telah mendorong peningkatan jumlah informasi yang beredar melalui berbagai platform digital.
Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan berupa banjir informasi, perubahan algoritma distribusi konten, serta penggunaan kecerdasan buatan yang semakin luas.
Perkembangan tersebut dinilai dapat mengaburkan batas antara produk jurnalistik berkualitas dan konten digital biasa yang belum tentu memenuhi standar pemberitaan.
“Di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik,” kata Totok.
Ia menegaskan bahwa Dewan Pers akan terus memberikan dukungan terhadap program pendidikan dan pelatihan pers guna meningkatkan kompetensi wartawan.
Dukungan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat penerapan Kode Etik Jurnalistik agar insan pers tetap menjalankan tugas secara profesional di tengah perubahan ekosistem media digital.
LPDS Ajak Pemerintah dan Industri Media Perkuat Pelatihan Wartawan
Dalam kepemimpinannya, Jimmy menyampaikan komitmen untuk memperluas kerja sama dalam pengembangan pendidikan jurnalistik di Indonesia.
LPDS mengajak pemerintah, sektor swasta, serta pelaku industri media untuk berkolaborasi menyelenggarakan berbagai program pelatihan yang dapat menjangkau wartawan di sejumlah daerah.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses peningkatan kompetensi sekaligus membantu wartawan menghadapi tantangan perkembangan teknologi.
LPDS juga akan terus menyesuaikan program pendidikannya dengan kebutuhan industri media tanpa mengabaikan prinsip dasar jurnalistik.
Melalui penguatan pelatihan, lembaga tersebut berupaya mempertahankan peran wartawan sebagai penyampai informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Jimmy Silalahi Gantikan Kristanto Hartadi sebagai Direktur Eksekutif LPDS
Serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS menandai berakhirnya masa kepemimpinan Kristanto Hartadi yang telah menjabat sejak 2023.
Kristanto mengundurkan diri setelah tiga tahun memimpin lembaga pendidikan jurnalistik tersebut.
Dalam sambutan perpisahannya, Kristanto menyampaikan komitmen untuk tetap mendukung keberlanjutan LPDS meskipun tidak lagi menjabat sebagai direktur eksekutif.
Ia juga berharap LPDS semakin mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta terus memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pers nasional.
LPDS sendiri merupakan lembaga pendidikan jurnalistik yang dibentuk oleh Dewan Pers melalui sidang pleno pada 1987.
Selama hampir empat dekade, LPDS telah menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang diikuti ribuan wartawan dari berbagai wilayah Indonesia.
Dengan kepemimpinan baru, LPDS akan melanjutkan penguatan kompetensi wartawan sekaligus menyesuaikan pendidikan jurnalistik dengan tantangan teknologi kecerdasan buatan dan perkembangan media digital.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




