HOME  ⁄  Lifestyle

Fadli Zon Usulkan Kerja Sama Budaya Indonesia-Suriname, Aksara Jawa dan Jaranan Berpeluang Diajukan ke UNESCO

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Fadli Zon Usulkan Kerja Sama Budaya Indonesia-Suriname, Aksara Jawa dan Jaranan Berpeluang Diajukan ke UNESCO
Foto: (Sumber :Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriname, Agus Priono. ANTARA/HO-Kemenbud.)

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusulkan penguatan kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Suriname melalui pengajuan warisan budaya bersama ke UNESCO, pembentukan Rumah Budaya Indonesia, serta penyusunan nota kesepahaman untuk mempererat hubungan diplomatik kedua negara.

Usulan tersebut disampaikan Fadli Zon dalam pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriname, Agus Priono, sebagaimana keterangan Kementerian Kebudayaan yang diterima di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat pelestarian warisan budaya Indonesia di Suriname sekaligus menjaga hubungan sejarah dan identitas masyarakat keturunan Indonesia yang tinggal di negara tersebut.

Fadli menilai Suriname memiliki potensi besar sebagai mitra diplomasi budaya karena keberadaan diaspora Indonesia, khususnya masyarakat keturunan Jawa.

Fadli Zon Dorong Pengajuan Aksara Jawa dan Jaranan ke UNESCO

Fadli Zon mengatakan Indonesia dan Suriname dapat bekerja sama mengusulkan sejumlah warisan budaya kepada Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Salah satu bentuk kerja sama yang diusulkan adalah pengajuan bersama Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage (ICH).

“Yang kita bisa lakukan adalah kerja sama pengusulan warisan dunia dengan UNESCO. Kemarin kita sudah jajaki pengusulan jaranan, namun bisa kita usulkan juga seperti aksara Jawa. Selain itu, Suriname dan Indonesia juga bisa membuat MoU kebudayaan sebagai payung hukum untuk pelestarian budaya,” ujar Menbud dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Fadli, pengajuan bersama tersebut dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pelindungan budaya yang memiliki keterkaitan sejarah antara Indonesia dan Suriname.

Kesenian jaranan dan aksara Jawa menjadi contoh warisan budaya yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama kedua negara.

Selain pengajuan ke UNESCO, Fadli mengusulkan penyusunan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bidang kebudayaan.

Nota kesepahaman tersebut diharapkan menjadi landasan hukum bagi kerja sama pelindungan dan pemajuan kebudayaan secara terstruktur serta berkelanjutan.

Rumah Budaya Indonesia di Suriname Diusulkan Jadi Sarana Diplomasi

Fadli juga mengusulkan pengaktifan kegiatan kebudayaan melalui Rumah Budaya Indonesia di Suriname.

Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperluas kegiatan pelestarian dan pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat.

Menurut Fadli, hubungan budaya kedua negara memiliki akar sejarah yang panjang sejak masa kolonial Belanda.

Pada masa tersebut, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan buruh kontrak dari wilayah Indonesia ke Suriname.

Peristiwa sejarah itu menjadi salah satu faktor terbentuknya komunitas keturunan Indonesia yang hingga kini mempertahankan berbagai tradisi leluhur.

Fadli menegaskan bahwa kekayaan budaya yang diwariskan masyarakat keturunan Indonesia perlu terus dilestarikan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 mengenai pemajuan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.

Kementerian Kebudayaan Perkuat Diplomasi Melalui Diaspora Indonesia

Fadli menilai keberadaan diaspora Indonesia di Suriname membuka peluang besar bagi pengembangan kerja sama kebudayaan.

Menurutnya, diplomasi budaya menjadi salah satu instrumen untuk mempererat hubungan masyarakat kedua negara.

“Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk mengembangkan budaya sesuai amanat konstitusi, yakni memajukan kebudayaan di tengah peradaban dunia, salah satunya melalui diplomasi budaya. Suriname merupakan negara dengan cukup banyak diaspora Indonesia sehingga ada potensi yang besar untuk mengembangkan budaya kita di Suriname,” kata Menbud.

Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seni, tetapi juga melalui kerja sama kelembagaan dan pemberian apresiasi kepada para pelestari budaya.

Pemerintah Indonesia diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat keturunan Indonesia dalam kegiatan kebudayaan di Suriname.

Fadli Zon Usulkan Penghargaan bagi Tokoh Budaya dan Warung Jawa

Selain penguatan kerja sama antarpemerintah, Fadli Zon menyoroti pentingnya memberikan apresiasi kepada tokoh yang berperan memperkenalkan budaya Indonesia di Suriname.

Salah satu tokoh yang disebut adalah Paul Somohardjo, politisi Suriname sekaligus budayawan keturunan Jawa.

Fadli menilai kontribusi tokoh budaya perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya menjaga warisan Indonesia di luar negeri.

Ia juga mengusulkan pemberian apresiasi kepada warung-warung Jawa yang memperkenalkan kuliner Nusantara kepada masyarakat Suriname.

Warung tersebut dinilai memiliki peran dalam mempertahankan tradisi makanan Indonesia di tengah kehidupan masyarakat setempat.

Keberadaan kuliner tradisional menjadi salah satu bentuk pelestarian identitas budaya yang masih berlangsung di Suriname.

Dubes RI Sebut Diaspora Jawa Capai 17 Persen di Suriname

Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriname, Agus Priono, menyambut baik rencana penguatan diplomasi budaya yang diusulkan Kementerian Kebudayaan.

Agus mengatakan budaya Indonesia masih berkembang di Suriname meskipun jumlah masyarakat keturunan Jawa merupakan sebagian dari total penduduk negara tersebut.

“Meskipun diaspora Jawa hanya sekitar 17 persen di Suriname, namun budaya Indonesia berkembang dengan baik di sana. Bisa terlihat dari berbagai aspek, seperti pelestarian budaya wayang, jaran kepang, ludruk, hingga kuliner warung Jawa yang menyediakan makanan tradisional seperti pecel dan nasi rames,” katanya.

Menurut Agus, keberadaan berbagai kesenian dan makanan tradisional menunjukkan bahwa masyarakat keturunan Jawa masih mempertahankan warisan budaya leluhur.

Wayang, jaran kepang, dan ludruk menjadi contoh kesenian yang tetap dikenal di lingkungan masyarakat Suriname.

Sementara itu, warung Jawa yang menyajikan pecel dan nasi rames turut memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia.

Dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Suriname diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan dalam merealisasikan rencana kerja sama tersebut.

Melalui pengajuan warisan budaya ke UNESCO, pengembangan Rumah Budaya Indonesia, serta kerja sama kelembagaan, Indonesia dan Suriname berupaya mempererat hubungan diplomatik sekaligus menjaga warisan budaya masyarakat keturunan Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026