Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Secuil Cerita Muasal Kerupuk Melarat, Primadona Jalur Pantura

Oleh Widji Ananta
SHARE   :

Secuil Cerita Muasal Kerupuk Melarat, Primadona Jalur Pantura

Pantau.com - Jika kalian pernah melalui jalur Pantai Utara atau Pantura, tentu sudah mengenal kerupuk miskin atau di tanah sunda disebut Kerupuk Melarat. Sejenis makanan ringan yang sering jadi buah tangan para pemudik atau pelancong.

Penasaran dengan asal muasal dan cara pembuatannya?

Beberapa hari lalu Pantau.com mencoba menjelajahi satu perkampungan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembuat kerupuk miskin, tepatnya di Kampung Purwadadi, Subang, Jawa Barat.


Keluarga yang memproduksi kerupuk miskin atau kerupuk melarat. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Yoyok (65), wanita dengan empat orang anak ini mengaku sudah 15 tahun lamanya membuat dan memasarkan kerupuk melarat.

Sudah sebanyak empat lokasi, Karawang, Subang, Purwakarta, dan Jalan Cagak (Perbatasan Subang-Bandung) berlangganan mengambil kerupuk buatan Yoyok

Asal muasal kerupuk.


Kerupuk melarat. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Yoyok bukanlah asli orang Subang, melainkan Tasik yang pindah ke Subang. Sudah sejak lama Yoyok dan keluarga memang memiliki bisnis kerupuk, namun bukanlah kerupuk miskin, setelah ke Subang lah ia mengetahui tentang kerupuk berwarna kuning, putih, dan merah itu.

"Dulu mah belum seramai sekarang, ngebuatnya juga cuma buat makan sehari-hari, lalu saya coba belajar buat terus dijualin pakai ilmu dari keluarga dari kecil," tuturnya.

Melihat kesuksesan Yoyok, membuat banyak tetangganya tertarik untuk ikut menjualkannya, tapi sayang salah-salah taktik usaha ini dapat memicu kebangkrutan.

"Habis banyak yang langsung pengen jualan, tapi nggak mau belajar, langsung suruh orang dianya uncang-uncang kaki, padahal bayar karyawan kan lumayan, kenapa nggak coba bikin sendiri sambil bantu-bantu, kalau butuh banget baru tarik orang suruhan," ujar Yoyok saat disambangi di kediamannya di Jalan Purwadadi, Subang, Jawa Barat.

Untung Melimpah


Proses pengiriman kerupuk melarat. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pada musim mudik dan liburan yang baru saja usai, Yoyok mengaku mendapat pengahasilan yang cukup lumayan, dari empat lokasi itu (Karawang, Subang, Purwakarta, Jalan Cagak) jika hari biasa, masing-masing hanya datang satu kali dalam seminggu menggunakan mobil bak yang hanya mengangkut paling banyak 10 karung kerupuk.

"Tapi kalau musim mudik gini ya lumayan, mereka dateng setiap masing-masing tempat itu satu mobil, bisa sampe bawa satu mobil 20 karung," ungkap Oyah.

Untuk satu karung kerupuk memiliki berat 25 kilogram, yang ia jual seharga Rp200 ribu per karung. Ada dua tipe kerupuk yang diproduksi Yoyok yakni lebar berbentuk persegi panjang dan jelujur panjang selayaknya kacang panjang, yang memiliki massa agak berat.

Sementara untuk satu karung bisa 'dipecah' dan menghasilkan 60 bungkus kerupuk yang diecer seharga Rp5000 per bungkus nya dan dijajakan dipinggir jalan. Ada pula eceran yang lebih kecil lagi yakni Rp1000 untuk disalurkan ke warung-warung kecil.

Menurut Yoyok selama musim mudik, tingginya permintaan berlangsung selama satu minggu, yang artinya ia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp4 juta per hari, dan Rp28 juta untuk selama musim mudik.

Proses Pembuatan


Pekerja tampak sedang menggoreng kerupuk melarat. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Jika kerupuk kebanyakan proses memasaknya menggunakan minyak, maka tidak dengan kerupuk melarat yang menggunakan pasir bahan bangunan yang telah dicuci bersih dan dipanaskan. Itu jugalah yang menjadikan kerupuk tersebut dilabeli 'miskin'.

Begitu pula untuk bahan bakar kompornya, yang masih menggunakan metode tradisional yakni tungku, sejenis ruang tanah liat yang apinya berasal dari kayu yang dibakar.


Proses penjemuran kerupuk melarat. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Selanjutnya seperti pembuatan kerupuk pada umumnya, memerlukan tepung tapioka atau sagu yang lebih dulu didinginkan satu hari sebelum akhirnya di cetak, dijemur hingga kering, baru kemudian disangrai dengan pasir.

Tidak lantas selesai, kerupuk yang telah disangrai kemudian dipanaskan diatas bara api atau sejenis oven, agar daya tahan kerupuk bertahan lama dan tidak mudah melempem atau lembek, sehingga tetap renyah.

"Saya mah, untuk bahan usahain yang bagus, dan bikin stok, mungkin ada beberapa tetangga yang membuat secara dadakan ketika ada pesenanan, tapi saya milih nyetok, jadi yang mau ngambil langsung ada," tutur Yoyok

Membantu perekonomian keluarga


Keluraga Yoyok. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Memiliki suami yang bekerja serabutan, akhirnya membuat Yoyok memutuskan meminta suami untuk fokus membantu usahanya.

Akhirnya, saat usaha Yoyok terbilang besar dan berhasil menghidupi empat anaknya, bahkan anak terakhirnya berhasil menempuh sekolah di perguruan tinggi dan kini telah bekerja.

Dari sana juga Yoyok telah mampu membeli kendaraan, rumah dan tempat produksi kerupuk sendiri, yang dibantu empat orang karyawan yang digaji per borongan atau beberapa karung pengerjaan.

Keempat karyawan ini miliki tugas berbeda, ada yang khusus mengolah adonan, menyangrai, mencetak dan menjemur, hingga membungkus.

Penulis :
Widji Ananta