HOME  ⁄  Nasional

BRIN Kukuhkan Lima Profesor Riset Baru untuk Perkuat Inovasi Nasional di Berbagai Bidang Strategis

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BRIN Kukuhkan Lima Profesor Riset Baru untuk Perkuat Inovasi Nasional di Berbagai Bidang Strategis
Foto: Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Jakarta, Rabu 15/4/2026 (sumber: BRIN)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan lima profesor riset baru dalam berbagai bidang strategis guna memperkuat inovasi nasional dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.

Pengukuhan dan Pesan Kepala BRIN

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa gelar profesor bukan akhir perjalanan akademik, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar bagi para periset.

Ia menyampaikan, "Profesor harus terus belajar, terus melakukan riset, dan menjadi teladan serta inspirasi bagi periset muda."

Lima profesor riset yang dikukuhkan meliputi I Nyoman Jujur dengan kepakaran biomaterial, Muhammad Yasin di bidang hama dan penyakit tanaman, Delima Hasri Azahari di bidang ekonomi dan kebijakan pertanian, Ratih Pangestuti di bidang bioteknologi laut, serta Yayan Apriyana di bidang agroklimatologi dan hidrologi.

Potensi Riset dan Tantangan Kemandirian Nasional

Arif menjelaskan bahwa riset biomaterial memiliki potensi luas untuk dikembangkan, termasuk dalam sektor kesehatan dan pertahanan.

Ia mengatakan, "Banyak helm, banyak rompi antipeluru dan beberapa fasilitas yang sekarang ini sedang dikembangkan dari berbagai sumber biomaterial, dari limbah sawit dan dari limbah-limbah yang lain."

Riset terkait penciptaan bibit unggul tahan hama dinilai penting untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

Penelitian di bidang biodiversitas laut juga membuka peluang transformasi mikroalga menjadi produk bernilai tinggi yang relevan untuk kebutuhan pangan dan kesehatan modern.

BRIN berharap hasil riset para profesor dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Arif menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor obat dengan menyatakan, "90 persen obat-obatan kita masih berbasis pada impor."

Ia menambahkan, "Untuk meningkatkan kedaulatan kesehatan kita masih membutuhkan para ahli yang mampu untuk bisa mengidentifikasi potensi-potensi berdaya lokal, baik di laut maupun di darat."

Ia juga menyampaikan, “Dan di laut, produk bioteknologi sudah bisa kita saksikan yang dihasilkan oleh berbagai negara, yang saat ini membanjiri pasar dalam negeri.”

Penulis :
Arian Mesa