HOME  ⁄  Nasional

IAFMI Dorong Industri Migas Indonesia Naik Kelas dan Perkuat Posisi di Pasar Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IAFMI Dorong Industri Migas Indonesia Naik Kelas dan Perkuat Posisi di Pasar Global
Foto: (Sumber: Kunjungan IAFMI dan KMI ke fasilitas produksi Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan industri Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Senin (27/4/2026) (ANTARA/HO-IAFMI).)

Pantau - Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) mendorong transformasi industri migas nasional agar mampu memperkuat posisi strategis di pasar global dengan beralih dari sekadar pengekspor sumber daya menjadi industri berdaya saing tinggi.

Transformasi Industri dan Penguatan TKDN

Sekretaris Jenderal IAFMI Gede Pramona mengatakan ketergantungan impor peralatan migas dan keterbatasan teknologi masih menjadi hambatan utama bagi Indonesia untuk naik kelas di rantai nilai global.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” ujarnya.

IAFMI bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong langkah strategis seperti penurunan impor peralatan, peningkatan efisiensi cost recovery, serta penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Selain itu, upaya tersebut juga diarahkan untuk melahirkan national champions di sektor migas serta memperkuat posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara.

Dukungan Industri dan Kapabilitas Nasional

Dalam upaya memperkuat industri penunjang migas, IAFMI dan KMI melakukan kunjungan ke fasilitas produksi Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di Cilegon, Banten.

Produk pipa seamless buatan dalam negeri tersebut saat ini memiliki TKDN sebesar 46 persen dan telah digunakan dalam berbagai proyek dengan standar internasional seperti API 5CT dan API 5L.

Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan menyebut industri dalam negeri telah menunjukkan kapasitas bersaing secara global.

Ia mengungkapkan, kontribusi IST telah mencapai Rp15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia hingga Timur Tengah.

Pemerintah sebelumnya juga mendukung penguatan industri melalui penyederhanaan penilaian TKDN lewat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 guna meningkatkan kepastian iklim usaha.

Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penguatan industri migas nasional dan menjadikan Indonesia pemain utama dalam rantai pasok global.

Penulis :
Aditya Yohan