HOME  ⁄  Nasional

Rekontekstualisasi Hardiknas: Peran Perempuan dan Literasi Jadi Kunci Pemerataan Pendidikan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rekontekstualisasi Hardiknas: Peran Perempuan dan Literasi Jadi Kunci Pemerataan Pendidikan
Foto: (Sumber: Siswa mengikuti pelajaran Aksara Jawa dengan alat peraga tokoh pewayangan di SD Negeri Kepatihan Solo, Jawa Tengah, Kamis (9/11/2023). Kegiatan belajar menulis dan membaca aksara Jawa dengan metode kreatif tersebut dilakukan guru setempat sebagai upaya efektif untuk melestarikan bahasa daerah serta menjaga keberlangsungan kebudayaan Jawa. ANTARAFOTO/Maulana Surya/rwa (ANTARA FOTO/Maulana Surya))

Pantau - Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk menilai pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya terkait rendahnya literasi dan akses pendidikan di wilayah terpencil.

Perempuan Jadi Pilar Penguatan Literasi

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggelar forum bertajuk pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan literasi dengan menghadirkan pegiat literasi dari Nusa Tenggara Timur.

Dalam forum tersebut, para pegiat tidak hanya memaparkan tantangan, tetapi juga praktik baik berbasis peran perempuan dalam membangun budaya membaca di daerah.

Bunda Literasi NTT periode 2025–2030 Mindriyati Astiningsih Laka Lena mengungkapkan keterbatasan akses bacaan di daerahnya dengan mengatakan bahwa buku bergambar masih menjadi "barang mewah" bagi anak-anak.

Meski demikian, berbagai solusi dihadirkan seperti gerakan “Satu ASN, Satu Buku Layak Baca”, distribusi pojok baca, hingga pemanfaatan dana BOS untuk penyediaan buku berkualitas.

Kolaborasi Jadi Kunci Perubahan

Program kemitraan pendidikan Indonesia-Australia melalui INOVASI turut menjembatani praktik baik dari daerah ke tingkat nasional agar menjadi rujukan kebijakan.

Forum ini menunjukkan pentingnya pendekatan bottom-up dalam kebijakan pendidikan, di mana pengalaman lokal menjadi dasar perumusan strategi nasional.

Kolaborasi antara Bunda Literasi, guru, kepala sekolah, komunitas taman bacaan, hingga kader PKK dinilai menjadi kekuatan utama dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Momentum Hardiknas pun dinilai tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat bahwa pemerataan pendidikan dan penguatan literasi harus dimulai dari peran keluarga, khususnya perempuan, hingga dukungan kebijakan yang inklusif.

Penulis :
Aditya Yohan