HOME  ⁄  Nasional

Akademisi UIN Saizu Sebut Ibadah Haji Menjadi Pengingat Hakikat Manusia sebagai Hamba Allah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Akademisi UIN Saizu Sebut Ibadah Haji Menjadi Pengingat Hakikat Manusia sebagai Hamba Allah
Foto: (Sumber: Jamaah calon haji melakukan tawaf atau memutari Kabah seusai sholat subuh di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, Selasa (13/6/2023). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/fo/pri..)

Pantau - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muridan, mengatakan ibadah haji menjadi momentum reflektif yang mengingatkan manusia terhadap hakikat dirinya sebagai hamba Allah SWT di tengah kehidupan modern yang semakin materialistis.

Haji Dinilai Bukan Sekadar Ritual Tahunan

Muridan mengatakan ibadah haji mengandung perjalanan spiritual yang mengajak umat Islam kembali menyadari posisi manusia di hadapan Tuhan.

"Haji bukan sekadar ritual tahunan umat Islam, melainkan perjalanan spiritual yang mengajak manusia kembali menyadari posisinya sebagai hamba Allah," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin.

Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu itu menilai kehidupan modern membuat banyak orang mengukur keberhasilan melalui materi, pengakuan publik, hingga citra digital di ruang sosial.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat dimensi spiritual dan batiniah kerap terabaikan karena manusia lebih fokus pada penampilan lahiriah.

Ia menjelaskan simbol ihram dalam ibadah haji memiliki makna pelepasan identitas sosial dan atribut duniawi.

"Saat jutaan orang mengenakan pakaian yang sama, semua berdiri setara sebagai hamba di hadapan Allah," ujarnya.

Talbiyah dan Wukuf Memiliki Makna Spiritual Mendalam

Muridan mengatakan talbiyah yang dikumandangkan selama ibadah haji mengandung pesan kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhan.

"Talbiyah mengajarkan pergeseran orientasi hidup, dari yang semula berpusat pada ego menuju penghambaan yang tulus kepada Allah," katanya.

Ia juga menilai momentum wukuf di Arafah menjadi puncak refleksi spiritual karena manusia diingatkan pada keterbatasan dan kefanaan hidup.

"Di Padang Arafah, tidak ada kemegahan dunia yang dapat dibanggakan. Yang tersisa hanyalah doa, penyesalan, harapan, dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta," ungkapnya.

Muridan mengingatkan agar ibadah haji tidak hanya dipahami secara simbolik dan seremonial, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan moral dan sosial di tengah masyarakat.

"Haji yang mabrur menjadi momentum melahirkan pribadi yang lebih jujur, rendah hati, sabar, dan memiliki kepedulian sosial yang lebih kuat," katanya.

Ia menegaskan ibadah haji harus dipahami sebagai perjalanan batin untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Penulis :
Aditya Yohan