
Pantau - Aktivitas para pengrajin bongsang di Dusun Andir, Sumedang Utara, Jawa Barat, kembali meningkat menjelang Idul Adha seiring melonjaknya permintaan wadah anyaman bambu tradisional untuk pembagian daging kurban.
Sejak pagi hari, suara bambu dibelah dan dianyam terdengar dari rumah-rumah warga yang masih mempertahankan kerajinan turun-temurun tersebut sejak 1917.
Salah seorang pengrajin, Dadang Gunawan, mengatakan hampir seluruh warga di kampungnya belajar membuat bongsang dari keluarga sejak kecil.
“Di sini hampir semua belajar dari keluarga. Dari kecil sudah lihat orang tua bikin bongsang,” kata Dadang sambil merapikan anyaman bambu.
Bongsang merupakan wadah tradisional berbahan bambu yang kerap digunakan sebagai pengganti kantong plastik saat pembagian daging kurban karena dinilai lebih ramah lingkungan.
Produksi Bongsang Naik Jelang Idul Adha
Menjelang Idul Adha, aktivitas para pengrajin meningkat drastis karena banyaknya pesanan dari berbagai daerah.
Dalam kondisi normal, satu keluarga pengrajin mampu memproduksi sekitar 400 bongsang per hari, namun saat musim ramai jumlahnya meningkat menjadi 500 hingga 600 buah per hari dengan tambahan jam kerja hingga malam.
“Kalau lagi ramai seperti sekarang, hampir tidak berhenti. Baru selesai satu pesanan, datang lagi,” ungkap Dadang.
Dalam satu bulan, satu rumah tangga pengrajin dapat menghasilkan sekitar 10 ribu hingga 12 ribu bongsang, tergantung ketersediaan bambu dan tenaga keluarga.
Produk tersebut dijual dalam satuan kantet yang berisi 100 bongsang dengan harga sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu.
Dari penjualan itu, satu keluarga pengrajin bisa memperoleh omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta saat permintaan meningkat menjelang Idul Adha.
Industri Rumahan Bambu Jadi Penopang Ekonomi Warga
Di wilayah Sumedang Utara, sedikitnya terdapat lebih dari 60 kepala keluarga yang masih aktif menjadi pengrajin bongsang.
Dengan rata-rata produksi mencapai 10 ribu bongsang per bulan per keluarga, satu sentra produksi mampu menghasilkan lebih dari 160 ribu bongsang setiap bulan.
Aktivitas produksi juga ditemukan di sejumlah wilayah lain seperti Cisarua, Wado, dan daerah perbatasan yang masih mempertahankan kerajinan bambu rakyat.
Kerajinan bongsang menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga warga karena dikerjakan secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan potensi bambu yang melimpah di daerah tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





