
Pantau - Sebanyak 16 bhikkhu dari berbagai daerah di Indonesia memulai perjalanan spiritual Thudong dari Candi Sima menuju Candi Sewu di kawasan Prambanan dengan menempuh perjalanan selama 11 hari melintasi sejumlah daerah di Jawa Tengah.
Perjalanan tersebut dimulai dari Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dan dilepas langsung oleh Bupati Jepara, Witiarso Utomo.
Witiarso mengatakan kegiatan Thudong tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga simbol penguatan nilai toleransi dan keberagaman di Kabupaten Jepara.
Thudong Jadi Simbol Harmoni dan Toleransi
Witiarso menilai perjalanan para bhikkhu mencerminkan wajah Jepara yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Jepara merupakan rumah besar yang damai, penuh toleransi, serta menghargai pluralitas dan keberagaman,” ungkap Witiarso.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu menghadirkan suasana toleransi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat selama perjalanan berlangsung.
Menurutnya, semangat kebersamaan yang ditunjukkan dalam kegiatan Thudong dapat memperkuat persatuan dan keberagaman bangsa.
Para Bhikkhu Tempuh Perjalanan Spiritual Selama 11 Hari
Ketua Panitia Thudong, Sundoko, mengatakan perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan kaki biasa.
“Perjalanan ini merupakan perjalanan batin yang memiliki makna spiritual mendalam,” ujar Sundoko.
Ia mengungkapkan dalam setiap langkah perjalanan, para bhikkhu membawa doa untuk kedamaian negeri dan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Rute perjalanan di wilayah Jawa Tengah melintasi Kabupaten Jepara, Demak, Semarang, Ungaran, Salatiga, Boyolali, hingga Klaten sebelum tiba di tujuan akhir di Candi Sewu.
Selama perjalanan, para bhikkhu akan singgah di sejumlah fasilitas umum yang telah disediakan masyarakat setempat.
Dalam perjalanan tersebut, para bhikkhu juga menjalani kehidupan sederhana dengan disiplin spiritual yang ketat sebagai bagian dari tradisi Thudong.
- Penulis :
- Leon Weldrick





