HOME  ⁄  Nasional

Wamendagri Ribka Haluk Minta Konflik di Papua Pegunungan Diselesaikan Lewat Adat dan Tokoh Agama

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Wamendagri Ribka Haluk Minta Konflik di Papua Pegunungan Diselesaikan Lewat Adat dan Tokoh Agama
Foto: (Sumber: Wamendagri RI Ribka Haluk bersalaman Ketua LMA Kabupaten Lanny Jaya Tias Kogoya usai penyelesaian konflik suku yang dilaksanakan di Mapolres Jayawijaya. ANTARA/Yudhi Efendi.)

Pantau - Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk berharap setiap permasalahan di wilayah Papua Pegunungan dapat diselesaikan dengan cara damai melalui keterlibatan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh gereja.

Pernyataan tersebut disampaikan Ribka Haluk saat menghadiri proses perdamaian konflik suku di Wamena yang digelar melalui prosesi adat di Mapolres Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Ribka menilai penyelesaian masalah di Papua Pegunungan tidak selalu harus dibawa langsung ke pemerintah.

Menurutnya, penyelesaian konflik perlu dilakukan secara berjenjang agar penanganannya lebih terarah dan baik.

Tahapan penyelesaian masalah dimulai dari tingkat keluarga, kemudian kampung atau desa, hingga tingkat kelurahan apabila belum menemukan penyelesaian.

Minta Perang Suku Dihentikan

Ribka Haluk mengatakan masyarakat Papua Pegunungan telah menerima Injil sebagai pintu kebenaran sehingga konflik dan perang suku diharapkan dapat dihentikan.

Ia berharap tidak ada lagi perang suku yang terjadi di wilayah Papua Pegunungan.

Wamendagri juga meminta seluruh tokoh intelektual di Papua Pegunungan tetap bersatu dan tidak terpecah belah.

Menurutnya, masyarakat asli Papua Pegunungan merupakan satu keluarga besar yang harus menjaga persatuan, kesatuan, dan kebersamaan.

Dorong Persatuan untuk Percepatan Pembangunan

Ribka menegaskan persatuan masyarakat dinilai penting untuk membantu pemerintah mempercepat pembangunan daerah di Papua Pegunungan.

Ia juga menyinggung kepemimpinan Gubernur Papua Pegunungan John Tabo dan Wakil Gubernur Ones Pahabol dalam menjaga stabilitas daerah.

Perdamaian konflik suku di Wamena dilakukan melalui prosesi adat sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik secara damai di Papua Pegunungan.

Penulis :
Gerry Eka