HOME  ⁄  Nasional

Peneliti BRIN Ungkap Empat Kuadran Cara Berpikir Manusia di Era Media Digital

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Peneliti BRIN Ungkap Empat Kuadran Cara Berpikir Manusia di Era Media Digital
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Warga menunjukkan informasi terkait aturan batas usia pengguna media sosial Instagram di Jakarta, Kamis (9/4/2026). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/sgd/am.).)

Pantau - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Destika Cahyana mengungkapkan terdapat empat kuadran cara berpikir manusia di era media digital yang dipengaruhi pola kritis, konformis, terbuka, dan tertutup dalam merespons informasi di media sosial.

Destika menyebut manusia modern telah mengalami perubahan karakter dari Homo sapiens menjadi Homo commentarius karena derasnya arus informasi dan budaya berkomentar di media sosial.

“Manusia berkembang dari hewan yang berpikir bijak menjadi hewan yang hobi berkomentar di jagad media sosial,” tulis Destika dalam telaah yang diterbitkan ANTARA, Selasa.

Menurutnya, media sosial menciptakan banjir informasi sekaligus banjir komentar yang memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat.

Dua Dimensi Cara Berpikir Manusia

Destika menjelaskan terdapat dua dimensi utama dalam cara berpikir manusia saat menerima informasi baru.

Dimensi pertama adalah cara memproses informasi yang terbagi menjadi kritis dan konformis.

Sementara dimensi kedua adalah cara merespons informasi yang terbagi menjadi terbuka dan tertutup.

Ia menjelaskan individu kritis memiliki independensi intelektual dan mampu mengevaluasi informasi secara rasional.

Sebaliknya, individu konformis cenderung mengikuti opini mayoritas tanpa melakukan verifikasi mendalam.

Pada sisi lain, individu terbuka dinilai bersedia menerima perspektif baru dan siap mengoreksi pandangannya sendiri.

Sedangkan individu tertutup cenderung defensif terhadap kritik dan nyaman berada dalam “ruang gema” kelompoknya sendiri.

Kuadran Kritis-Terbuka Dinilai Paling Ideal

Destika kemudian membagi pola pikir manusia menjadi empat kuadran berdasarkan dua dimensi tersebut.

Kuadran pertama adalah kritis-tertutup yang dinilai analitis tetapi sulit menerima pandangan berbeda.

Kuadran kedua adalah konformis-tertutup yang rentan terhadap propaganda dan fanatisme.

Kuadran ketiga adalah konformis-terbuka yang mudah mengikuti tren dan viralitas media sosial tanpa refleksi kritis.

Sementara kuadran keempat adalah kritis-terbuka yang disebut sebagai pola pikir paling sehat bagi demokrasi dan masa depan bangsa.

“Ia tidak mudah termakan propaganda, tetapi juga tidak menolak informasi hanya karena berasal dari pihak yang berbeda pandangan politik,” tulisnya.

Destika menilai masyarakat Indonesia membutuhkan pola pikir kritis-terbuka agar mampu mendukung kebijakan pemerintah secara rasional sekaligus tetap melakukan pengawasan.

Menurutnya, warga negara yang sehat secara demokratis harus mampu memahami tujuan kebijakan, memberi ruang bagi evaluasi, serta tetap terbuka terhadap dialog dan kritik.

“Bangsa maju biasanya tidak dibangun oleh rakyat yang selalu patuh atau rakyat yang selalu marah, tetapi oleh masyarakat yang mampu mendukung sekaligus mengoreksi negara secara dewasa,” ungkapnya.

Penulis :
Aditya Yohan