
Pantau - Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abangda Dzulfikar Ahmad Rawalla menyebut kehidupan keluarga Nabi Ibrahim sebagai kisah keluarga teladan dalam khutbah Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Muhajirin, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu.
"Keluarga Nabi Ibrahim adalah kisah keluarga teladan karena berhasil menanamkan tauhid dalam sendi-sendi kehidupan manusia," ungkap Abangda Dzulfikar Ahmad Rawalla.
Ia mengatakan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim terlihat dari berbagai ujian berat yang dijalani, mulai dari meninggalkan Siti Hadjar dan Nabi Ismail di padang tandus hingga kesediaan menjalankan perintah Allah SWT untuk berkurban.
"Sungguh sudah ada suri teladan yang baik bagimu pada Nabi Ibrahim dan orang-orang bersamanya dan secara metaforis, di antara kita semua sejatinya ada Nabi Ibrahim," ujarnya.
Kisah Nabi Ibrahim Dinilai Relevan dengan Kehidupan Saat Ini
Dalam khutbahnya, Wamen P2MI menjelaskan kisah Nabi Ibrahim memiliki makna mendalam dan relevan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini.
"Sebagaimana di dalam historis, Nabi Ibrahim memiliki Nabi Ismail dan Ismail (anak) kita bisa menjadi harta kekayaan, identitas, pangkat, jabatan, kita sendiri. Kisah Nabi Ibrahim dan istri serta anaknya ini bukan sekedar cerita roman ataupun drama-drama yang penuh kesedihan, sebagaimana drama Korea yang digemari anak-anak muda sekarang ataupun sinetron cinta yang disenangi ibu-ibu dan flim Hollywood yang disenangi bapak-bapak sekarang ini," katanya.
Ia menilai kisah tersebut menunjukkan keteguhan hati Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah SWT meski harus menghadapi ujian besar dalam kehidupan keluarganya.
Idul Adha Jadi Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah
Abangda Dzulfikar mengatakan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi simbol ketaatan serta keikhlasan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Kisah inilah yang kita sebut sebagai romantis keberkahan dalam keluarga, inilah sebuah kekuatan yang menundukkan diri dari semua yang dicintai dan memilih jalan Allah, bukan karena terpojok melainkan keinginan untuk mendekatkan dan keridhaan Allah SWT semata-mata," ungkapnya.
Ia berharap momentum Hari Raya Idul Adha dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperkuat nilai ketauhidan, pengorbanan, dan keharmonisan dalam keluarga.
- Penulis :
- Aditya Yohan





