
Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan pentingnya deteksi dini dan keterlibatan masyarakat dalam penanganan wabah Ebola galur Bundibugyo yang masih menyebar di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, sementara sejumlah kandidat vaksin dan terapi masih dalam proses penilaian.
WHO mencatat hingga 28 Mei 2026 terdapat 906 kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo dengan 223 kematian suspek, sedangkan kasus terkonfirmasi mencapai 125 kasus di wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan dengan 17 kematian.
Di Uganda, otoritas kesehatan melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi termasuk satu kematian yang seluruhnya berkaitan dengan wabah di Republik Demokratik Kongo.
WHO Soroti Peran Masyarakat dalam Memutus Penularan
Petugas teknis WHO Anais Legand menegaskan penularan Ebola dapat terjadi saat seseorang merawat anggota keluarga yang terinfeksi.
“Penyakit ini dapat menular ke Anda ketika Anda merawat seseorang - suami Anda, anak Anda, atau ibu Anda,” ungkap Legand dalam pengarahan di Jenewa.
Ia menekankan keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama untuk menghentikan rantai penyebaran virus yang memiliki tingkat kematian tinggi tersebut.
Menurut WHO, hingga kini belum ditemukan bukti penularan Ebola di masyarakat Uganda meskipun terdapat kasus yang terkait dengan wabah di negara tetangga.
Kandidat Vaksin dan Terapi Sedang Dievaluasi
WHO saat ini mengumpulkan para ahli untuk menilai berbagai langkah penanggulangan medis terhadap galur Bundibugyo yang tergolong langka.
Legand mengungkapkan dua kandidat vaksin telah diidentifikasi untuk dievaluasi setelah ketersediaan dosis terpenuhi.
Untuk pencegahan pascapaparan, WHO memprioritaskan obat antivirus oral obeldesivir dalam studi klinis terhadap kontak erat kasus terkonfirmasi.
Sementara untuk pengobatan, tiga kandidat terapi yang diprioritaskan dalam uji klinis meliputi antibodi monoklonal MBP 134, maftivimab, serta antivirus remdesivir.
“Kami dapat meningkatkan skala perawatan intensif yang dioptimalkan dan mendukung masyarakat untuk mengenali gejala lebih dini,” kata Legand.
WHO menyebut tingkat fatalitas Ebola galur Bundibugyo berdasarkan wabah sebelumnya berkisar antara 30 hingga 50 persen.
Konflik Hambat Penanganan Wabah
WHO terus bekerja sama dengan pemerintah Republik Demokratik Kongo dan Uganda dalam menangani wabah di tengah situasi kemanusiaan yang kompleks.
Konflik bersenjata dan keterbatasan akses di Provinsi Ituri disebut menjadi tantangan besar dalam menjangkau masyarakat terdampak.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan kelompok bersenjata untuk melakukan gencatan senjata agar tenaga kesehatan dapat memberikan layanan dan bantuan secara optimal kepada warga yang membutuhkan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf





