HOME  ⁄  Nasional

Pemprov Kepri Perkuat Pendidikan Vokasi dan Sertifikasi untuk Dongkrak Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemprov Kepri Perkuat Pendidikan Vokasi dan Sertifikasi untuk Dongkrak Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri
Foto: Gubernur Kepri Ansar Ahmad (sumber: ANTARA/Ogen)

Pantau - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) memperbanyak program penguatan sumber daya manusia (SDM) agar mampu bekerja di luar negeri secara resmi melalui kerja sama dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), seiring tren penempatan tenaga kerja luar negeri yang terus meningkat dan ditargetkan mencapai 3.000 orang pada 2026.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mengatakan penempatan tenaga kerja luar negeri dari Kepri menunjukkan perkembangan yang positif dari tahun ke tahun.

"Dari tahun ke tahun, pengiriman tenaga kerja luar negeri dari Kepri cukup baik. Kami secara konsisten bersama-sama pemerintah pusat dan BP3MI terus berupaya menyiapkan SDM berkompeten sesuai kebutuhan global," ungkap Ansar Ahmad.

Data Pemprov Kepri menunjukkan penempatan tenaga kerja luar negeri dari daerah tersebut mencapai 2.305 orang sepanjang 2025.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Mei 2026, jumlah penempatan telah mencapai 1.236 orang.

Pemprov Kepri menargetkan jumlah penempatan tenaga kerja luar negeri pada 2026 dapat mencapai 3.000 orang.

Penguatan Pendidikan Vokasi dan Sertifikasi

Pemprov Kepri terus menyiapkan SDM yang berkompeten, memiliki sertifikasi yang dibutuhkan, sesuai kebutuhan pasar kerja internasional, serta memiliki daya saing global.

Salah satu program yang dijalankan adalah dukungan terhadap kelas internasional di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungpinang.

Pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar setiap tahun untuk meningkatkan kualitas lulusan dan membuka peluang kerja luar negeri secara resmi bagi lulusan bidang kesehatan.

Pada 2026, Pemprov Kepri juga menyiapkan anggaran Rp2 miliar bagi lulusan SMK.

Dana tersebut digunakan untuk uji kompetensi, sertifikasi keahlian, serta penyesuaian kompetensi sesuai kebutuhan tenaga kerja luar negeri.

Pemprov Kepri juga memperkuat sektor pendidikan pariwisata dan perhotelan melalui Sahid Bintan Tourism Institute.

Melalui institusi tersebut, pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan lembaga terkait di Australia guna mempermudah lulusan diterima di pasar kerja internasional dan menyesuaikan kompetensi dengan standar global.

"Kita punya Politeknik andalan mulai dari kesehatan hingga pariwisata, yang fokus pada pendidikan vokasi untuk meningkatkan kualitas SDM bekerja di luar negeri," kata Ansar Ahmad.

Konversi SMA Menjadi SMK Sesuai Kebutuhan Industri

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemprov Kepri mengembangkan pendidikan vokasi di tingkat sekolah menengah dengan komposisi sekitar 30 persen SMA dan 70 persen SMK.

Fokus utama pengembangan SMK diarahkan pada jurusan yang sesuai kebutuhan industri dan pasar kerja, termasuk program keahlian welder atau pengelasan.

Ansar Ahmad menjelaskan beberapa SMA telah dikonversi menjadi SMK untuk menyesuaikan tuntutan dunia kerja dan memperbesar peluang lulusan memperoleh pekerjaan.

"Beberapa SMA kita konversi menjadi SMK yang sesuai tuntutan dunia kerja. Buktinya, sekarang lulusan SMP di Kepri berbondong-bondong ingin masuk SMK, karena lulusan SMK memang disiapkan masuk dunia kerja," ujarnya.

Pemerintah daerah menilai minat siswa terhadap SMK terus meningkat karena prospek kerja yang lebih jelas, kompetensi yang sesuai kebutuhan industri, serta peluang bekerja di dalam maupun luar negeri yang lebih besar.

Peluang Kerja Internasional Masih Terbuka Lebar

Ansar Ahmad optimistis berbagai program penguatan SDM tersebut mampu menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas, tersertifikasi, dan berdaya saing internasional.

Keunggulan geografis Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura juga dinilai menjadi faktor pendukung penting dalam memperluas peluang kerja luar negeri bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), tersedia sekitar 320.000 lowongan kerja luar negeri bagi tenaga kerja Indonesia.

Dari jumlah tersebut, Indonesia baru mampu memenuhi 75.378 pekerja atau sekitar 24 persen dari total kebutuhan.

Peluang kerja luar negeri yang masih besar tersebar di sektor kesehatan, manufaktur, perikanan, peternakan, perkebunan, pertanian, konstruksi, serta bidang welder.

Pemprov Kepri menegaskan fokus pengembangan SDM ke depan diarahkan pada perluasan pendidikan vokasi, penguatan sertifikasi kompetensi, penyiapan tenaga kerja sesuai kebutuhan global, peningkatan penempatan pekerja migran secara resmi, serta pemanfaatan peluang kerja internasional yang masih terbuka luas.

Penulis :
Arian Mesa