
Pantau - Sejumlah ahli di bidang teknologi dan media sosial menekankan pentingnya komunikasi pemerintah yang adaptif untuk menghadapi perkembangan homeless media di tengah pesatnya transformasi teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Pemerintah Diminta Menjaga Konsistensi Pesan di Era Fragmentasi Media
Dalam Government Social Media Summit (GSMS) 2026 di Jakarta, Dewan Pembina GSMS Karina Kusumawardani menilai pemerintah perlu menyusun strategi komunikasi yang mampu menjaga konsistensi pesan kepada publik.
Ia mengatakan, "Di tengah fragmentasi media yang semakin kompleks, menjaga konsistensi pesan dan identitas komunikasi menjadi tantangan yang harus dijawab bersama," ujarnya.
Karina juga menilai instansi pemerintah perlu memadukan pendekatan konvensional dan modern melalui rilis pers, konten media sosial, serta sosialisasi tatap muka agar kebijakan dapat dipahami secara inklusif oleh berbagai kalangan.
Fenomena Homeless Media Ubah Cara Publik Mengakses Informasi
CEO NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa menyebut kemunculan homeless media dan entitas nonkonvensional telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memercayai informasi.
Ia mengungkapkan, “Entitas media nonkonvensional ini berkembang pesat karena berhasil mengisi kekosongan sudut pandang, khususnya bagi demografi muda yang cenderung lebih menyukai informasi yang terdesentralisasi dan ringkas dibanding format berita tradisional,” katanya.
Menurut Aqsath, perubahan tersebut menuntut instansi pemerintah untuk membangun pola interaksi yang lebih dinamis dan menjalin kemitraan yang sehat dengan ekosistem media modern agar diskursus publik semakin beragam tanpa memperdalam polarisasi.
Dalam kesempatan yang sama, GSMS 2026 juga memberikan penghargaan kepada 16 instansi pemerintah dengan kinerja pengelolaan media sosial terbaik dalam empat kategori, yaitu Most Engaging, Best Use of Image, Best Use of Video, dan Best Account.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





