HOME  ⁄  Nasional

Kualitas Udara Jakarta Masuk Peringkat Kedua Terburuk di Dunia pada Rabu Pagi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kualitas Udara Jakarta Masuk Peringkat Kedua Terburuk di Dunia pada Rabu Pagi
Foto: (Sumber :Arsip foto - Sejumlah pekerja memakai masker saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (7/6/2024). ANTARA FOTO/Reno Esnir/YU/pri..)

Pantau - Kualitas udara Jakarta pada Rabu pagi, 17 Juni 2026, masuk peringkat kedua terburuk di dunia berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.00 WIB.

Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 175 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 88,5 mikrogram per meter kubik.

Kondisi tersebut menempatkan kualitas udara Jakarta dalam kategori tidak sehat.

Masyarakat dianjurkan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan atau menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.

Jakarta Urutan Kedua Setelah Lahore

Berdasarkan data IQAir, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada waktu yang sama adalah Lahore, Pakistan, dengan indeks kualitas udara mencapai 382.

Jakarta berada di posisi kedua dengan AQI 175.

Posisi ketiga ditempati Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan AQI 163.

Sementara itu, Santiago, Chili, berada di urutan keempat dengan AQI 153.

Arsip foto yang menyertai berita menunjukkan sejumlah pekerja mengenakan masker saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta.

Pemprov DKI Jalankan Strategi Kurangi Polusi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara di ibu kota.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas jangkauan layanan bus Transjabodetabek guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Beberapa rute yang telah beroperasi antara lain Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2, serta rencana pembukaan rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah disediakan pemerintah.

Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen sehingga menempatkan Jakarta pada peringkat ke-17 dunia dan kedua di kawasan ASEAN setelah Singapura.

Pramono mengatakan sektor transportasi menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta.

"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," ungkap Pramono terkait target pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.

Selain sektor transportasi, Pemprov DKI juga mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini.

"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," kata Pramono.

Berita ini diterbitkan pada Rabu, 17 Juni 2026 pukul 05.16 WIB dan ditulis oleh Redemptus Elyonai Risky Syukur serta diedit oleh Abdul Hakim.

Penulis :
Ahmad Yusuf