
Pantau - Program Sekolah Rakyat mulai menjangkau masyarakat adat Suku Talang Mamak yang tinggal di pedalaman Jambi, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, dengan membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan akses belajar.
Tiga remaja Talang Mamak, yakni Kevin Saputra (18), Rio Ardianto (18), dan Rido (20), mengikuti Program Sekolah Rakyat tingkat SMA di Kota Jambi.
Saat bertemu Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam kegiatan temu terbuka bersama calon siswa dan wali murid di Sentra Alyatama Kota Jambi pada 5 Juni 2026, ketiganya mengungkapkan cita-cita mereka.
Ketika ditanya mengenai cita-cita, Kevin menjawab, "Mau jadi TNI, Pak."
Sementara itu, Rido mengatakan, "Saya polisi, Pak."
Ketiga remaja tersebut berasal dari Dusun Semerantihan, Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo yang berada di kawasan pedalaman sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
Sebelas Anak Talang Mamak Ikuti Program Sekolah Rakyat
Pegawai UPT Sentra Alyatama Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Sarah Kurniati Rahayu, menjelaskan bahwa ketiga siswa tersebut merupakan hasil penjaringan lapangan yang dilakukan melalui kerja sama Sentra Alyatama dan KKI Warsi.
Pada tahun ajaran 2026, sebanyak 11 calon siswa dari Suku Talang Mamak akan bergabung dengan Sekolah Rakyat Kota Jambi.
Sebanyak delapan siswa akan menempuh pendidikan tingkat SMP.
Sementara tiga siswa lainnya akan melanjutkan pendidikan pada tingkat SMA.
Sarah mengatakan, "Tiga orang yang akan melanjutkan ke tingkat SMA sudah datang untuk penyesuaian, sedangkan yang lain akan menyusul. Untuk sementara mereka tinggal di Asrama Sentra Alyatama. Setelah kegiatan belajar dimulai, mereka akan bergabung dengan siswa lainnya."
Program Officer KKI Warsi Hariyanto menjelaskan bahwa keikutsertaan para siswa didorong oleh kemauan mereka sendiri serta dukungan orang tua.
Menurutnya, akses pendidikan bagi masyarakat Talang Mamak masih belum optimal akibat keterbatasan sarana dan kondisi geografis.
Akses Pendidikan Masih Menjadi Tantangan
Hariyanto mengatakan sekolah satu atap tingkat SD dan SMP yang tersedia di wilayah tersebut belum berjalan maksimal karena hanya memiliki dua guru pengampu.
Kondisi geografis yang sulit dijangkau dan minimnya akses jalan juga menjadi hambatan utama dalam proses belajar mengajar.
Akibat berbagai keterbatasan tersebut, kegiatan pendidikan di kawasan pedalaman belum berjalan secara efektif.
Ia mengatakan, "Data kami menunjukkan ada sekitar 30 siswa SD kelas jauh dan sekitar 50 siswa SMP. Itu pun banyak yang akhirnya keluar karena proses belajar mengajar tidak efektif."
Meski menghadapi berbagai kendala, minat anak-anak Talang Mamak untuk bersekolah dinilai cukup tinggi.
Minat tersebut bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan beberapa kelompok masyarakat adat lain di Jambi.
Pelaksana Harian SRMA 5 Kota Jambi Muhamad Eko Desryanto mengatakan mulai tahun ajaran 2026 Sekolah Rakyat Kota Jambi membuka jenjang SD dan SMP, sementara program tingkat SMA telah memasuki tahun kedua penyelenggaraan.
Hasil penjaringan siswa menunjukkan sebanyak 28 calon siswa mendaftar tingkat SD, 142 calon siswa mendaftar tingkat SMP, dan 43 calon siswa mendaftar tingkat SMA.
Eko mengatakan, "Tahun lalu kami sudah memiliki 98 siswa SMA. Tahun ini baru dibuka tingkat SD dan SMP, dan peminat tingkat SMP cukup banyak, lebih dari seratus orang."
Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan menjadi peluang baru bagi anak-anak Suku Talang Mamak untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik serta membuka kesempatan yang lebih luas dalam meraih cita-cita dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
- Penulis :
- Gerry Eka





