
Pantau - Associate Professor Universitas Nasional (Unas) Firdaus Syam mengusulkan transformasi kultur di internal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui jalur pendidikan dan konsolidasi internal untuk memperkuat perubahan kelembagaan serta meningkatkan profesionalisme institusi.
Pendidikan dan Konsolidasi Jadi Fokus Perubahan
Firdaus menyampaikan transformasi kultur diperlukan untuk menjawab perhatian publik terhadap profesionalisme Polri dalam pelaksanaan tugasnya.
Ia mengungkapkan, "Pertanyaannya, melalui apa untuk mengubah kultur ini? Ada dua, jalur pendidikan dan konsolidasi di internal kepolisian."
Menurutnya, jalur pendidikan dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai profesionalisme kepada taruna kepolisian sekaligus melanjutkan tradisi yang telah dikembangkan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Ia menilai pendidikan juga harus membentuk anggota Polri yang humanis, independen, dan profesional.
Sementara itu, konsolidasi internal dinilai penting untuk memperkuat pelaksanaan fungsi Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, memberikan pengayoman, serta menegakkan hukum.
Apresiasi terhadap Transformasi Polri
Firdaus mengapresiasi berbagai perubahan yang telah dilakukan Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Ia mengatakan, "Kita harus akui bahwa langkah perubahan yang dilakukan Pak Listyo Sigit Prabowo sudah banyak, seperti pada level struktural, kelembagaan, program berbasis teknologi informasi, serta sarana dan prasarana."
Pandangan tersebut disampaikan Firdaus dalam peluncuran buku Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Sang Arsitektur PRESISI Polri karya Ali Ramadhan di Jakarta, Rabu (24/6).
Buku tersebut terbagi menjadi dua bagian, yakni Fondasi dan Visi yang mengulas perjalanan karier serta konsep transformasi PRESISI, dan Disrupsi Demokrasi dan Korps Bhayangkara Masa Depan yang membahas kepemimpinan Listyo Sigit serta peran Polri dalam menghadapi disrupsi demokrasi di era digital.
- Penulis :
- Aditya Yohan





