HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Masih Merahasiakan Rute MRT Tangerang Selatan untuk Cegah Spekulasi Tanah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemerintah Masih Merahasiakan Rute MRT Tangerang Selatan untuk Cegah Spekulasi Tanah
Foto: Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi berbicara dalam bincang bersama awak media, di Jakarta, Jumat 26/6/2026 (sumber: ANTARA/Harianto)

Pantau - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah belum membuka rute Mass Rapid Transit (MRT) menuju Tangerang Selatan (Tangsel) kepada publik karena ingin mencegah spekulasi tanah yang berpotensi menaikkan harga lahan dan meningkatkan biaya pembangunan proyek.

Dudy menyampaikan pernyataan tersebut saat bincang bersama awak media di Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026.

Ia menanggapi informasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan jalur MRT menuju Tangerang Selatan yang disebut akan melewati kawasan Pondok Cabe atau Pondok Aren.

Rute Masih Dikaji dan Belum Diputuskan

Menurut Dudy, investor masih menghitung jalur yang paling menguntungkan dari sisi ekonomi sebelum menentukan trase akhir.

"Itu biasanya kita enggak akan buka, karena apa? Nanti calo tanahnya beredar di mana-mana, kasihan juga kan mereka (investor). Yang paling penting mereka akan lihat dari sudut ekonomisnya mana yang menguntungkan rutenya," ungkap Dudy.

Ia juga mengatakan, "Mereka (investor) akan ngitung mau lewat Pondok Cabe kah atau mau lewat Pondok Aren."

Dudy menegaskan hingga saat ini pemerintah belum mengetahui rute final MRT Tangsel karena proses penentuan masih berada di tangan investor.

"Kita belum tahu, kalau pun keluar (rutenya) itu akan mereka simpan sendiri, kenapa? Karena kan yang berinvestasi mereka. Karena kalau misalnya ini bocor keluar, itu akan mempengaruhi biaya perolehan tanahnya," jelasnya.

Kerahasiaan Trase Dinilai Lindungi Efisiensi Proyek

Menurut Dudy, kebocoran informasi mengenai trase MRT berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk melakukan spekulasi harga tanah sehingga biaya investasi proyek menjadi lebih besar dan perencanaan menjadi kurang efisien.

Ia menilai lonjakan harga tanah yang tidak wajar lebih banyak menguntungkan para spekulan dibandingkan masyarakat.

"Biasanya mereka enggak akan buka itu. Karena takutnya itu akan berpengaruh ke biaya investasinya mereka. Nanti tiba-tiba tanah yang tadinya Rp1 juta (per hektare) jadi Rp30 juta gitu. Nah, hitungannya sudah enggak masuk. Akhirnya apa, yang dikorbankan siapa? Masyarakat, yang diuntungkan cuman para makelar-makelar aja," ungkapnya.

Dudy menambahkan pemerintah lebih mengutamakan perluasan jangkauan layanan transportasi massal serta peningkatan konektivitas agar masyarakat memperoleh akses perjalanan yang lebih mudah dan efisien.

Ia mengatakan investor diberikan kewenangan menentukan pola pengembangan jaringan berdasarkan kajian bisnis dan kebutuhan kawasan sehingga penentuan rute tidak harus diumumkan sejak tahap awal perencanaan.

"Tujuan akhir (MRT Tangsel) kan BSD. Ya terserah mereka mau lewat mana. Kalau saya sih yang penting jangkauannya sudah semakin jauh gitu, dan konektivitasnya lebih bagus," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono menyampaikan kajian pembangunan jalur MRT menuju Tangerang Selatan masih disusun oleh investor bersama PT MRT Jakarta.

"Terkait MRT Tangsel, Sinar Mas bersama MRT Jakarta sedang menyusun kajiannya dan kita harapkan di akhir tahun ini kajiannya sudah selesai," ujar Allan.

Kajian tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026 dan hasilnya akan menjadi dasar penentuan rute serta tahapan pengembangan proyek MRT Tangerang Selatan.

Penulis :
Arian Mesa