HOME  ⁄  Nasional

Badan Geologi Naikkan Status Gunung Anak Krakatau Menjadi Siaga Setelah Aktivitas Vulkanik Meningkat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Badan Geologi Naikkan Status Gunung Anak Krakatau Menjadi Siaga Setelah Aktivitas Vulkanik Meningkat
Foto: (Sumber :Ilustrasi: Gunung anak Krakatau pantauan dari cctv PVMBG. ANTARA/HO-PVMBG/am..)

Pantau - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Jumat (3/7) setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas vulkanik.

Aktivitas Vulkanik Meningkat Signifikan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan peningkatan status didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang memperlihatkan kenaikan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas permukaan yang mengindikasikan adanya suplai magma menuju bagian dangkal.

“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” ungkapnya.

Lana menjelaskan hasil pemantauan tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan juga menunjukkan kecenderungan inflasi yang menandakan adanya akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung api.

Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah aktif guna menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material pijar.

Masyarakat di sekitar pesisir Selat Sunda diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas pemantau gunung api.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diminta menyiapkan langkah mitigasi dan memperkuat koordinasi apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik lebih lanjut.

Badan Geologi menegaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui jaringan seismik, deformasi, dan pengamatan visual untuk mendeteksi setiap perkembangan aktivitas gunung api sedini mungkin.

Penulis :
Ahmad Yusuf