
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami.
Pacitan Berada di Wilayah Rawan Gempa dan Tsunami
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan Pacitan menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi karena berada dekat dengan zona subduksi atau Megathrust.
Dalam lima tahun terakhir, BMKG mencatat sebanyak 6.582 kejadian gempa bumi di wilayah Pacitan dan sekitarnya dengan sedikitnya 25 kejadian dirasakan oleh masyarakat.
Teuku Faisal Fathani menyebut tingginya aktivitas kegempaan di Pacitan disebabkan oleh lokasi wilayah tersebut yang berhadapan langsung dengan zona subduksi.
Catatan sejarah menunjukkan Pacitan pernah mengalami tsunami pada 1840 dan 1859 serta gempa besar pada 27 September 1937 yang menyebabkan sekitar 2.200 rumah roboh dan menimbulkan korban jiwa.
BMKG menilai rekam jejak bencana tersebut menjadi dasar penting untuk membangun budaya sadar bencana melalui edukasi dan pelatihan kepada masyarakat.
BMKG menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti waktu terjadinya gempa bumi sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini.
SLG Perkuat Kapasitas Masyarakat Hadapi Bencana
Pelaksanaan SLG tahun ini mengusung tema "Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045".
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari unsur pemerintah, relawan, pelajar, dan masyarakat serta menjadi pelaksanaan ketujuh sejak program dimulai pada 2016.
Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah mengatakan kesiapsiagaan bencana merupakan kebutuhan yang harus dimiliki seluruh masyarakat.
Gagarin mengatakan, "Kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi masyarakat."
Menurut Gagarin, kondisi geografis Pacitan yang berada di pesisir selatan Jawa membuat wilayah tersebut berdekatan dengan lempeng Indo-Australia dan memiliki sesar aktif.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan respons cepat terhadap bencana.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai penting untuk meningkatkan ketangguhan daerah dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.
- Penulis :
- Leon Weldrick





