
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memugar Stasiun Semarang Tawang sebagai upaya menjaga bangunan cagar budaya sekaligus mempertahankan fungsi transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Stasiun Tawang Jadi Contoh Pemugaran Cagar Budaya KAI
KAI mengelola lebih dari 600 bangunan berstatus cagar budaya di seluruh Indonesia, dengan 120 bangunan di antaranya sedang menjalani proses pemugaran.
Stasiun Semarang Tawang menjadi salah satu contoh proyek pemugaran bangunan bersejarah yang dilakukan KAI dan resmi dibuka kembali pada Kamis (23/7/2026) setelah melalui proses pengerjaan selama 330 hari.
Stasiun Tawang menjadi bangunan pertama yang selesai dipugar dan menjadi contoh bagi proyek pemugaran stasiun lain seperti Jakarta Kota, Tanjung Priuk, dan Bogor yang direncanakan dilakukan pada tahun yang sama.
Bangunan Stasiun Semarang Tawang telah berdiri selama 112 tahun dan dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dengan luas lahan 27.310 meter persegi serta luas bangunan utama sekitar 5.300 meter persegi.
Proses pemugaran dilakukan dalam dua tahap, yaitu perbaikan fasad depan dan hall utama, kemudian dilanjutkan pada sisi barat dan timur bangunan.
Karena berstatus cagar budaya, pemugaran Stasiun Tawang harus mengikuti aturan yang berlaku, termasuk mempertahankan detail bangunan berdasarkan dokumentasi sejarah.
Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010 mengatur bahwa bentuk bangunan seperti jendela hingga tata ruang publik harus tetap sesuai dengan karakter asli.
Pemugaran tersebut tidak dilakukan seperti renovasi biasa yang hanya memperbaiki tampilan, sehingga membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
Pemugaran Dukung Fungsi Transportasi dan Ekonomi
Salah satu pekerjaan penting dalam pemugaran Stasiun Tawang adalah perbaikan sistem drainase untuk menghadapi kondisi kawasan Semarang bagian utara yang sering mengalami banjir rob akibat pasang air laut.
Perbaikan tersebut dilakukan agar bangunan tetap memiliki nilai sejarah sekaligus nyaman digunakan oleh masyarakat.
Stasiun Tawang juga tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai pusat transportasi dan tercatat sebagai stasiun tersibuk keempat di Indonesia.
Pada semester pertama 2026, Stasiun Tawang mencatat 2.152.894 pergerakan penumpang dan melayani 34 keberangkatan kereta setiap hari.
Kawasan sekitar Stasiun Tawang juga menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah Semarang yang terhubung dengan berbagai bangunan bersejarah seperti Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong, dan Gereja Blenduk.
Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Semarang mencapai 8.923.868 orang, meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 7.345.373 wisatawan.
Lawang Sewu menjadi salah satu contoh bangunan bersejarah yang tetap aktif setelah dipugar dengan fungsi sebagai museum serta lokasi berbagai kegiatan seperti festival, pameran, dan pertunjukan sinema imersif.
Dalam sambutannya di Stasiun Tawang, Presiden Prabowo mengingatkan agar layanan kereta api tetap menjangkau kota-kota kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Dukungan akses transportasi tersebut dilakukan melalui skema subsidi tarif atau Public Service Obligation (PSO) dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Sepanjang Januari-April 2026, layanan bersubsidi tersebut telah digunakan 155.809.294 pelanggan yang mencakup kereta api jarak jauh, kereta api lokal, Commuter Line, dan LRT Jabodebek.
KAI juga masih mengoperasikan 13 kereta ekonomi bersubsidi dengan tarif mulai Rp67 ribu hingga Rp104 ribu sekali perjalanan, seperti KA Bengawan, Kahuripan, Serayu, dan Airlangga.
Pemugaran Stasiun Tawang dinilai tidak hanya bertujuan memperindah bangunan lama, tetapi juga menjaga agar bangunan bersejarah tetap menjadi ruang aktif bagi masyarakat.
- Penulis :
- Leon Weldrick



