HOME  ⁄  Nasional

Mendiktisaintek Dorong Pendidikan Psikologi Jadi Instrumen untuk Menekan Masalah Kejiwaan Remaja

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mendiktisaintek Dorong Pendidikan Psikologi Jadi Instrumen untuk Menekan Masalah Kejiwaan Remaja
Foto: (Sumber :Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menerima audiensi Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta, Senin (3/8/2026). (ANTARA/HO-Kemdiktisaintek).)

Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan pendidikan psikologi harus menjadi instrumen yang berdampak dalam menekan masalah kejiwaan di kalangan remaja dan mahasiswa Indonesia.

Brian mengatakan pemahaman psikologi perlu diperkuat, terutama di kalangan pendidik, agar mereka mampu merespons berbagai persoalan kejiwaan yang dialami peserta didik.

“Jadi memang bapak/ibu sekalian ini perlu kita membangun psikologi yang berakar di banyak pendidik terutama. Sehingga mereka bisa merespons ya hal-hal ini,” kata Brian dalam seminar psikologi di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Brian, persoalan kesehatan mental di kalangan mahasiswa pernah ditemuinya secara langsung ketika menjabat sebagai Direktur Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung.

Brian Ceritakan Mahasiswa Alami Tekanan Berat

Brian mengisahkan pernah mencari tahu kondisi seorang mahasiswa bimbingannya yang dikenal cerdas, tetapi mulai sering menghilang pada tahun kedua perkuliahan.

Mahasiswa tersebut mengaku sibuk mengerjakan pesanan gambar animasi lepas untuk klien dari Rusia sebagai pelarian dari konflik keluarga yang dialaminya.

Brian kemudian mengetahui mahasiswa tersebut melakukan tindakan melukai diri ketika sang mahasiswa melepas jaket tebal yang biasa dikenakannya.

“Kemudian karena agak gerah, dia buka jaketnya. Dia pakai kaos pendek begitu. Ternyata pak, sepanjang tangannya itu penuh sayatan,” ujarnya.

Menurut Brian, mahasiswa tersebut mengaku melukai dirinya sebagai cara mengalihkan perhatian dari trauma dan tekanan akibat persoalan keluarga.

“Jadi dia, katanya kalau stres pak, itu pemikiran saya butuh konsentrasi yang lain. Nah, konsentrasi yang lain itu adalah dengan lukanya dia. Jadi kalau dia ada luka, dia konsentrasi ke luka nih, dia tenang, dia bilang gitu,” katanya menirukan pengakuan mantan anak didiknya.

Masalah Kejiwaan Remaja Jadi Perhatian

Mengutip data Kementerian Kesehatan, Brian menyebut 10 persen remaja di Indonesia memiliki masalah kejiwaan.

Dari angka tersebut, sebanyak 4,4 persen mengalami kecemasan dan 4,8 persen mengalami depresi.

Brian menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelompok usia muda dan mahasiswa akan menjadi motor penggerak Indonesia ketika memasuki puncak bonus demografi.

Ia mendorong psikolog dan dosen psikologi terus mengembangkan terobosan dalam edukasi sekaligus meningkatkan kapasitas dan wawasan masyarakat mengenai kesehatan mental.

“Makanya, Bapak/Ibu para psikolog atau dosen di psikologi ini (harus) bisa terus-menerus membangun satu terobosan-terobosan baru untuk edukasi atau untuk menambah kapasitas, menambah wawasan pada teman-teman atau pada masyarakat luas. Sehingga ya muatan-muatan psikologi itu bisa difahami lebih banyak masyarakat,” tutur Brian.

Penulis :
Ahmad Yusuf