
Pantau - KHR As'ad Syamsul Arifin menjadi salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjembatani dinamika penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal pada era Orde Baru sekaligus meneguhkan pandangan bahwa dasar negara tersebut tidak bertentangan dengan Islam.
Kiai As'ad yang saat itu mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menjadi tokoh sentral ketika terjadi perbedaan pandangan di kalangan umat Islam terkait kebijakan asas tunggal Pancasila.
Peran tersebut menguat ketika Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah menjadi lokasi Musyawarah Nasional Alim Ulama NU pada 1983 yang menghasilkan keputusan penting mengenai penerimaan Pancasila.
Keputusan itu kemudian dipertegas dalam Muktamar Ke-27 NU pada 1984 yang juga berlangsung di pesantren tersebut.
Kiai As'ad Teguhkan Pancasila dan Akidah Islam
Kiai As'ad berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama sehingga tidak terdapat alasan bagi NU untuk menolaknya sebagai asas organisasi.
Pertimbangan tersebut juga berangkat dari prinsip kemaslahatan dalam fikih dengan melihat dampak yang dapat muncul terhadap kehidupan umat dan bangsa apabila kebijakan pemerintah ketika itu ditolak.
Bagi Kiai As'ad, Indonesia merupakan warisan para pendahulu yang harus dijaga, sementara Pancasila sebagai dasar negara merupakan keputusan final.
Pandangan itu juga tidak terlepas dari keterlibatan tokoh-tokoh Islam dalam proses perumusan dasar negara pada 1945, termasuk tokoh NU KH Wachid Hasyim dan KH Masykur yang menjadi bagian dari Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir yang merupakan santri Kiai As'ad menyebut peran gurunya sangat menentukan dalam keputusan NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal.
Menurut kesaksian Afifuddin, perbedaan pandangan antara kelompok kiai yang menerima dan menolak Pancasila sebagai asas tunggal berlangsung kuat dalam Munas Alim Ulama NU pada 1983.
Pertentangan tersebut bahkan masih berlangsung setelah keputusan menerima Pancasila ditetapkan.
Situasi kemudian mereda setelah Kiai As'ad menegaskan bahwa NU berasaskan Pancasila, sedangkan akidah yang dipegang adalah Islam Ahlussunah Waljamaah atau Aswaja.
Kesatria Kuda Putih yang Menjadi Pahlawan Nasional
Selain dikenal karena perannya dalam perjalanan NU, Kiai As'ad memiliki rekam jejak perjuangan melawan penjajahan.
Kiai As'ad muda dikenal dengan sebutan "Kesatria Kuda Putih" karena memiliki kuda tunggangan berbulu putih yang digunakan ketika memimpin pasukannya menyerbu pertahanan penjajah.
Perjalanan hidup Kiai As'ad juga erat dengan tradisi pesantren setelah dirinya lahir di Makkah, kemudian tumbuh di Pamekasan, Madura, serta menjadi santri ulama besar Syaikhona Kholil Bangkalan.
Perannya dalam perjuangan kemerdekaan, kehidupan keagamaan, serta upaya menjaga persatuan bangsa membuat pemerintah menetapkan KHR As'ad Syamsul Arifin sebagai Pahlawan Nasional pada 2016.
- Penulis :
- Aditya Yohan




