
Pantau - Bank Indonesia (BI) menegaskan perkembangan transaksi digital tidak akan menggantikan keberadaan uang rupiah fisik karena keduanya berfungsi saling melengkapi dalam sistem pembayaran masyarakat.
Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Anwar Bashori menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
“Digitalisasi luar biasa kenaikannya, tapi Bank Indonesia mengatakan bahwa antara digitalisasi dengan cash itu adalah bukan saling menggantikan, tapi komplementari, saling melengkapi,” kata Anwar.
BI tetap mendukung perkembangan transaksi digital, termasuk penggunaan QRIS yang semakin luas di berbagai wilayah Indonesia.
Uang Tunai Tetap Dibutuhkan di Wilayah Terpencil
Anwar mengatakan kondisi geografis Indonesia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau serta keterbatasan jaringan telekomunikasi di sejumlah daerah membuat uang rupiah fisik tetap dibutuhkan untuk mendukung aktivitas ekonomi.
BI harus memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh uang layak edar meski proses distribusinya menghadapi medan dan keterbatasan infrastruktur.
“Kalau di Jakarta, kalau ada namanya uang kurang bagus, bisa kita ATM ada, setiap waktu bisa kita dropping, tapi kalau wilayah terpencil itu cycle-nya cukup lama karena medannya nggak bisa, tapi karena harus hadir kita dengan kapal laut untuk mengganti, setiap tahun itu mengganti tempat-tempat yang terpencil itu kita ganti uangnya,” kata Anwar.
BI juga bekerja sama dengan patroli Angkatan Laut untuk mengantarkan dan mengganti uang rupiah di sejumlah wilayah terpencil.
Uang tunai juga masih menjadi alat pembayaran penting bagi penjual dan pembeli di pasar tradisional yang belum seluruhnya terhubung dengan layanan pembayaran digital seperti QRIS.
Rupiah Fisik Penting Saat Bencana dan Hari Besar
Selain untuk transaksi sehari-hari, uang kertas masih dibutuhkan masyarakat dalam tradisi berbagi angpao ketika Lebaran maupun perayaan hari besar keagamaan lainnya.
Keberadaan uang fisik juga dinilai penting ketika terjadi bencana karena transaksi tunai tidak bergantung pada ketersediaan listrik maupun jaringan telekomunikasi yang dapat terganggu dalam kondisi darurat.
“Hal-hal itu yang terus kita perhatikan, dan tidak ada negara satu pun negara ini yang meninggalkan uang kartal, digitalisasi bukan substitusi, tapi saling melengkapi,” kata Anwar.
BI dengan demikian tetap mengedarkan dan mengelola uang rupiah fisik di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi transaksi keuangan di Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



