HOME  ⁄  Nasional

Gempa M 7,7 Mengguncang NTT, Pakar Mengingatkan Nusa Tenggara Berada di Zona Tektonik Aktif

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Gempa M 7,7 Mengguncang NTT, Pakar Mengingatkan Nusa Tenggara Berada di Zona Tektonik Aktif
Foto: (Sumber :Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) NTT. ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz.)

Pantau - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi pengingat bahwa kawasan Nusa Tenggara berada di zona tektonik aktif dengan potensi bencana gempa hingga tsunami.

Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram Aji Syailendra mengatakan aktivitas tektonik tinggi di Nusa Tenggara dipengaruhi sejumlah struktur sesar aktif, termasuk Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.

"Sesar Naik Busur Belakang Flores merupakan struktur tektonik aktif yang penting dalam memahami potensi gempa dan bencana geologi di Nusa Tenggara," ujar Aji di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.

Sesar Flores Berpotensi Memicu Gempa Besar

Sesar Naik Busur Belakang Flores memanjang ratusan kilometer di dasar laut dari utara Flores, Sumbawa, Lombok hingga kawasan Bali.

Sistem sesar tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa berkekuatan sekitar magnitudo 7,8 hingga 7,9.

Aji menjelaskan gempa tektonik yang terjadi pada Sabtu merupakan bagian dari sistem sesar yang sama dengan pemicu gempa Flores pada 1992 dan rangkaian gempa Lombok pada 2018.

"Kalau dilihat dari aspek geologi, ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018," kata Aji.

Gempa M 7,7 pada 15 Agustus 2026 tercatat berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur.

Pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.

Pergerakan Dasar Laut Berpotensi Memicu Tsunami

Aji menjelaskan karakter sesar naik di dasar laut perlu diwaspadai karena pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar dapat mengakibatkan perubahan vertikal dasar laut.

Perubahan tersebut dapat mendorong kolom air dan berpotensi memicu tsunami apabila kondisi yang diperlukan terpenuhi.

"Dari sudut pandang geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah yang sering gempa. Kawasan itu berada pada zona tektonik aktif dengan berbagai potensi bencana geologi mulai dari gempa bumi hingga tsunami," kata Aji.

Sejarah mencatat gempa Flores pada 12 Desember 1992 memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi dengan ketinggian gelombang mencapai sekitar 26 meter serta menyebabkan lebih dari 2.500 orang meninggal dunia.

Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut lima orang meninggal dunia akibat gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 di Mbay, Kabupaten Nagekeo.

BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami setelah gempa sebelum mencabutnya pada pukul 08.30 WITA karena hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.

Penulis :
Ahmad Yusuf