
Pantau - Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menyimpan sejarah panjang industri minyak sekaligus perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Wilayah yang dahulu merupakan kampung nelayan itu berubah menjadi pusat produksi minyak setelah cadangan minyak ditemukan oleh insinyur pertambangan asal Belanda J.H. Menten pada 1888.
Catatan dalam buku "Sanga-Sanga Kota Bersejarah Provinsi Kalimantan Timur" menyebut sumur minyak pertama mulai menghasilkan minyak pada 1897.
Sumur tersebut dikenal sebagai Sumur Noni untuk mengenang seorang gadis Belanda yang konon terjatuh ke dalam sumur.
Penemuan Minyak Mengubah Sanga-Sanga
Sebelum minyak ditemukan, masyarakat Sanga-Sanga menggantungkan kehidupan pada hasil tangkapan laut, kopra, dan rempah-rempah.
Eksploitasi minyak kemudian berkembang pesat di bawah pengelolaan De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).
Sebanyak 613 sumur pada masa itu mampu menghasilkan hingga 70.000 ton minyak mentah setiap bulan dan menjadikan Sanga-Sanga sebagai kota minyak.
Produksi minyak dari wilayah tersebut disebut turut membantu pemulihan perekonomian Belanda yang terpuruk akibat perang.
Perkembangan industri minyak juga memunculkan kesenjangan sosial antara petinggi kolonial dan para pekerja.
Para petinggi kolonial menempati kawasan elite bergaya Eropa di Distrik 10 yang telah dilengkapi listrik, gas, dan air bersih.
Sebaliknya, pekerja dan kuli kontrak yang didatangkan Belanda harus tinggal berdesakan di bangsal kayu yang sempit.
Kota Minyak Menjadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan
Kekayaan minyak membuat Sanga-Sanga memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Kalimantan Timur dan menjadi bagian dari jejak perjuangan rakyat menghadapi kekuasaan kolonial.
Warisan sejarah tersebut masih dapat ditelusuri melalui sejumlah peninggalan di Sanga-Sanga, termasuk bangunan kayu ulin yang pernah digunakan sebagai penjara.
Jejak industri minyak dan perjuangan rakyat menjadikan Sanga-Sanga bukan sekadar kawasan penghasil sumber daya alam, tetapi juga wilayah yang menyimpan catatan sejarah tentang mahalnya perjuangan menuju kemerdekaan.
- Penulis :
- Gerry Eka



