
Pantau - Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Jamaluddin Jompa menilai pemahaman budaya dapat menjadi pintu untuk memperkuat hubungan sekaligus mempersatukan generasi muda antarnegara ASEAN.
Jamaluddin mengatakan kedekatan budaya dapat dibangun melalui pengalaman langsung, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring antarkampus di kawasan ASEAN.
Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan lebih banyak kesempatan mengunjungi berbagai wilayah, berinteraksi dengan masyarakat, serta mengenal bahasa dan sejarah yang membentuk identitas suatu daerah.
Makassar Jadi Ruang Mengenal Keragaman Budaya
Jamaluddin menilai Makassar memiliki ruang kuat untuk memberikan pengalaman kebudayaan karena sejarah kota tersebut sebagai titik perjumpaan berbagai komunitas meninggalkan jejak pada bahasa, tradisi, sejarah maritim, dan kehidupan masyarakat.
“Ketika datang ke Makassar, pelajari budayanya, bahasanya, dan sejarahnya,” kata Jamaluddin dalam ASEAN LUMINA bertajuk Waves of Resonances: Exploring Cultural Richness, Creative Expressions and Diversity Within a Shared Heritage di Makassar.
Pengalaman langsung di tengah masyarakat dinilai dapat memperluas pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan kebudayaan yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku maupun ruang akademik.
Jejaring perguruan tinggi juga menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan tersebut melalui pertukaran mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga pengetahuan kebudayaan.
Interaksi tersebut dapat memperluas hubungan antarnegara sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di kawasan ASEAN.
Warisan Budaya Jadi Titik Temu Masyarakat ASEAN
Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Mardiantori mengatakan warisan budaya dapat menjadi ruang untuk memahami perbedaan sekaligus menemukan nilai yang mempertemukan masyarakat.
"Setiap komunitas memiliki simbol, cerita, dan ekspresi budaya yang khas. Cerita-cerita tersebut diwariskan lintas generasi dan membentuk identitas masyarakat. Dibalik keberagamannya, terdapat nilai yang dapat menjadi titik temu untuk membangun hubungan yang lebih harmonis di kawasan," kata Mardiantori.
Menurutnya, warisan budaya juga hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui makanan, alam, komunitas, sejarah, serta praktik sosial yang membentuk cara masyarakat memahami dirinya dan lingkungan.
Pemahaman mengenai budaya tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman antarnegara, termasuk dalam menjaga tradisi, merawat sejarah, dan mengembangkan ekspresi kebudayaan.
"Pada saat yang sama, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi baru. Kreativitas dan inovasi dapat digunakan untuk menerjemahkan kembali warisan budaya ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini, tanpa memutus kaitannya dengan sejarah," kata Mardiantori.
- Penulis :
- Aditya Yohan



