
Pantau - Yayasan Plan Indonesia mendorong pemulihan layanan pendidikan menjadi prioritas sejak fase darurat setelah gempa bumi melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena sedikitnya 25.765 murid terdampak kerusakan sekolah.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan dampak bencana terhadap pendidikan dan masa depan anak dapat berlangsung lebih lama dibandingkan peristiwa gempa itu sendiri.
"Gempa dapat terjadi dalam hitungan detik, tetapi dampaknya terhadap pendidikan dan masa depan anak dapat berlangsung jauh lebih lama. Karena itu, pemulihan pendidikan tidak boleh menunggu sampai seluruh proses pemulihan bencana selesai. Pendidikan anak harus menjadi bagian dari respons sejak fase darurat," kata Dini dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Ratusan Sekolah dan Puluhan Ribu Murid Terdampak
Data sementara Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana mencatat sebanyak 512 sekolah terdampak, termasuk 166 sekolah mengalami kerusakan berat dan 478 ruang kelas rusak berat.
Kerusakan tersebut berdampak terhadap sedikitnya 25.765 murid di tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Sikka.
Akses pendidikan di sejumlah wilayah juga masih terkendala karena dua sekolah dasar di Ende dan satu layanan pendidikan anak usia dini di Manggarai Timur belum dapat diakses pascagempa.
Plan Indonesia sejak hari pertama pascagempa telah bergerak ke sejumlah wilayah terdampak untuk melakukan kaji cepat kebutuhan dan membantu penyintas, khususnya anak serta kelompok rentan.
Ratusan paket bantuan darurat telah disalurkan ke sejumlah lokasi pengungsian di Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka.
Bantuan tersebut meliputi perlengkapan kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi, perlengkapan hunian sementara, alat permainan edukatif, air minum, dan makanan ringan.
Anak-Anak Mendapat Dukungan Psikososial
Plan Indonesia juga memberikan dukungan psikososial kepada ratusan anak di lokasi pengungsian untuk membantu mereka menghadapi tekanan dan ketakutan akibat gempa.
Dukungan itu sekaligus menyediakan ruang aman bagi anak untuk bermain, berinteraksi, serta secara bertahap memulihkan rasa aman setelah bencana.
Plan Indonesia terus berkoordinasi dengan Klaster Pendidikan yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta pemangku kepentingan terkait agar kebutuhan pendidikan anak masuk dalam respons kemanusiaan dan pemulihan.
"Dalam keadaan darurat, anak tidak boleh kehilangan haknya untuk belajar. Ketika sekolah rusak, kita perlu menghadirkan alternatif agar proses belajar tetap berlangsung. Ketika guru dan anak sama-sama terdampak, keduanya membutuhkan dukungan. Dan ketika sekolah mengalami kerusakan, proses perbaikan harus dimulai sedini mungkin," kata Dini.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



