HOME  ⁄  Nasional

Amerika Serikat Gagalkan Serangan Peretas yang Diduga Disponsori Pemerintah China

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Amerika Serikat Gagalkan Serangan Peretas yang Diduga Disponsori Pemerintah China
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Peretas menggunakan perangkat untuk melakukan serangan siber. /ANTARA/freepik.com/aa.)

Pantau - Amerika Serikat menyatakan telah menggagalkan upaya penyusupan komputer oleh kelompok peretas yang diduga disponsori pemerintah China dengan sejumlah institusi federal, termasuk NASA, Federal Reserve, dan Senat AS, disebut menjadi korban.

Departemen Kehakiman AS bersama Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan pada Rabu (26/8/2026) penyitaan sejumlah domain internet yang digunakan untuk menyerang infrastruktur penting dan jaringan sensitif di Amerika Serikat.

Dokumen yang telah dibuka untuk publik di pengadilan federal California menyebut domain tersebut digunakan sebagai platform peretasan bernama "QScan" dan "QTRouter".

Departemen Kehakiman dan FBI menyebut platform peretasan tersebut dioperasikan kelompok bernama QTFY yang diduga mendapat dukungan pemerintah China.

Menurut otoritas AS, QTFY dipekerjakan oleh Nanjing Xinjiuwei Network Technology Co., sebuah perusahaan yang berbasis di China.

Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan penyitaan domain menjadi bagian dari rangkaian operasi untuk menghentikan aktivitas peretasan yang dikaitkan dengan China.

Penyitaan tersebut merupakan "operasi teknis terbaru dalam serangkaian upaya untuk membongkar aktivitas peretasan tanpa pandang bulu yang disponsori oleh Republik Rakyat China," kata Blanche.

Departemen Kehakiman AS juga menjadi sasaran serangan bersama Institut Kesehatan Nasional (NIH), Departemen Energi, serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.

Sejumlah perusahaan di Amerika Serikat dan Korea Selatan turut disebut menjadi sasaran kelompok tersebut.

Pemerintah AS menyebut kelompok peretas itu dibentuk pada 2018 dan berafiliasi dengan Nanjing Xinjiuwei Network Technology Co.

Perusahaan tersebut disebut menjalankan operasi siber yang berkaitan dengan China dan mempunyai hubungan bisnis dengan sejumlah unit Kementerian Keamanan Negara China.

Departemen Kehakiman AS belum memerinci dampak serangan terhadap berbagai lembaga dan perusahaan yang menjadi sasaran.

Pengumuman mengenai operasi siber tersebut disampaikan sekitar satu bulan menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih.

Kecerdasan buatan dan teknologi canggih lainnya diperkirakan menjadi bagian dari agenda utama pertemuan kedua pemimpin tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan