HOME  ⁄  Nasional

Karhutla Ketapang Mengancam Habitat, BKSDA dan YIARI Evakuasi Induk serta Anak Orangutan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Karhutla Ketapang Mengancam Habitat, BKSDA dan YIARI Evakuasi Induk serta Anak Orangutan
Foto: (Sumber :Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali mengevakuasi induk dan anak orangutan dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan yang terancam akibar kebakaran hutan dan lahan. ANTARA/HO -YIARI.)

Pantau - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi seekor induk orangutan dan anaknya dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam habitat kedua satwa tersebut.

Dokter hewan YIARI, drh Komara, mengatakan kebakaran yang meluas di Kabupaten Ketapang telah mengancam satwa liar sehingga tim gabungan melakukan penyelamatan.

“Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali mengancam satwa liar hingga tim gabungan menyelamatkan seekor induk orangutan bersama anaknya,” kata Komara.

Evakuasi dilakukan setelah api semakin mendekati keberadaan kedua orangutan, sedangkan habitat yang tersisa semakin terbatas dan tidak tersedia jalur aman bagi satwa untuk berpindah.

“Induk dan anak orangutan itu sebelumnya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di kawasan perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan,” katanya.

Tim Evakuasi Bius Induk Orangutan

BKSDA Kalbar bersama YIARI meningkatkan patroli dan pemantauan di sejumlah kawasan rawan sejak 1 September 2026 untuk mengantisipasi dampak karhutla terhadap satwa liar.

“Pada Kamis (3/9/2026) kemarin, tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB dan melakukan evakuasi dengan melibatkan dokter hewan YIARI. Induk orangutan berusia sekitar 20 tahun dibius sebelum berhasil dievakuasi menggunakan jaring bersama anaknya,” katanya.

Pemeriksaan awal tidak menemukan luka fisik maupun luka bakar pada induk orangutan tersebut.

Tim memberikan dukungan oksigen kepada induk selama proses pemulihan setelah pembiusan sebelum membawanya bersama sang anak ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.

Anak orangutan berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun terlihat aktif, tetapi ditemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

Komara mengatakan paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi sistem pernapasan orangutan, terutama ketika konsentrasi asap di habitat tinggi.

“Secara umum tidak ditemukan luka akibat kebakaran pada induk maupun anak orangutan. Namun, kondisi kesehatan keduanya akan terus dipantau selama berada di pusat penyelamatan dan rehabilitasi,” katanya.

Sembilan Orangutan Diselamatkan dalam Kurang dari Sebulan

Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan BKSDA Kalbar bersama YIARI telah menyelamatkan sedikitnya sembilan orangutan yang terdampak ancaman karhutla di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dalam waktu kurang dari satu bulan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang terdampak karhutla agar dapat ditangani secara aman oleh petugas.

BKSDA juga menekankan pentingnya mencegah kebakaran hutan dan lahan untuk melindungi habitat satwa liar sekaligus kehidupan manusia.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026