HOME  ⁄  Nasional

Menkes Siagakan HEOC dan Obat untuk Tangani Dampak Kesehatan Erupsi Anak Krakatau

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Menkes Siagakan HEOC dan Obat untuk Tangani Dampak Kesehatan Erupsi Anak Krakatau
Foto: Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

Pantau - Kementerian Kesehatan mengaktifkan Health Emergency Operating Centre (HEOC) serta menyiapkan sejumlah obat dan alat kesehatan untuk merespons dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap masyarakat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada sistem pernapasan, mata, dan kulit.

Kemenkes menyiapkan nebulizer, konsentrator oksigen, obat tetes mata, dan salep kulit untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Kemenkes Siapkan Pedoman bagi Tenaga Kesehatan

Budi mengatakan Kemenkes akan menerbitkan surat edaran berisi panduan penanganan kesehatan bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota yang terdampak erupsi.

Ia mengungkapkan, "Kita juga segera mengeluarkan surat edaran untuk memberikan guidance yang rinci terhadap para petugas tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota yang terdampak."

Masyarakat disarankan tetap berada di rumah dan menggunakan masker serta kacamata apabila harus beraktivitas di luar untuk mengurangi paparan partikel erupsi.

"Kalau kulit, begitu pulang langsung dibersihkan. Kalau ternyata sudah sakit, ya segera ke puskesmas. Kita sudah siapkan kalau pernafasan ada nebulizer dan oxygen concentrator. Kalau misalnya mata kita siapkan tetes mata. Kalau kulit, juga kita siapkan salep kulit," katanya.

Budi juga meminta masyarakat tidak mengucek mata apabila terkena partikel erupsi dan menyarankan mata dibersihkan menggunakan air atau obat tetes mata serta segera mendatangi puskesmas jika mengalami gangguan.

"Sekali lagi, jangan panik, stay at home and stay healthy," katanya.

BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan pemerintah juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi dampak abu vulkanik.

"Ada dua teknik untuk OMC. Yang pertama adalah untuk mendatangkan hujan tentu saja. Kalau hujannya nanti turun dengan cukup deras begitu, tentu saja abu vulkanik yang sekarang, mulai kemarin sampai hari ini mengganggu kehidupan kita, ini bisa segera luruh," katanya.

BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyiapkan metode water mist untuk mengurai partikel abu berbahaya apabila tidak terdapat pertumbuhan awan hujan di Jakarta, Banten, dan Lampung.

"BNPB juga sudah mulai mendistribusikan kebutuhan-kebutuhan logistik masyarakat, seperti kebutuhan logistik dasar, juga masker. Tentu saja kami berkoordinasi juga dengan Kementerian Kesehatan dan kementerian lembaga terkait," kata Suharyanto.

BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau beserta dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026