
Pantau - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan skor sains dan membaca murid Indonesia masing-masing meningkat enam poin dibandingkan 2022, tetapi proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum masih rendah terutama pada bidang matematika.
Skor sains Indonesia pada PISA 2025 mencapai 389 atau naik enam poin, sedangkan skor membaca meningkat enam poin menjadi 365.
Sementara itu, skor matematika berada di angka 364 atau turun dua poin dibandingkan hasil PISA 2022.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin menilai PISA bukan tujuan akhir pendidikan Indonesia, melainkan alat ukur untuk melihat kesiapan murid menghadapi kehidupan nyata.
Kompetensi Minimum Masih Jadi Tantangan
Proporsi murid Indonesia yang mencapai kompetensi minimum tercatat sebesar 36,81 persen untuk sains dan 27,11 persen untuk membaca.
Pada bidang matematika, hanya 16,93 persen murid yang mencapai kompetensi minimum.
Data tersebut menunjukkan tantangan pendidikan Indonesia bukan sekadar meningkatkan skor rata-rata, tetapi juga memastikan lebih banyak murid mampu memahami informasi, bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Di tengah penurunan capaian di banyak negara, kenaikan skor sains dan membaca serta kondisi matematika yang relatif stabil menunjukkan adanya pemulihan pembelajaran di Indonesia meskipun belum cukup kuat.
Akses Pendidikan Meluas hingga 90 Persen
Cakupan anak Indonesia berusia 15 tahun dalam pendidikan formal yang direpresentasikan PISA meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir.
Pada 2003, PISA baru merepresentasikan sekitar 46 persen anak Indonesia berusia 15 tahun dalam pendidikan formal, sedangkan pada 2025 cakupannya telah mencapai 90 persen.
Perluasan tersebut menunjukkan semakin banyak anak masuk dalam sistem pendidikan dengan capaian yang relatif terjaga.
PISA 2025 juga menemukan murid Indonesia memiliki keingintahuan tinggi, kemandirian belajar, serta kemampuan dalam pemecahan masalah komputasional.
Murid Indonesia juga terbiasa belajar menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial (AI), kemampuan yang dinilai penting dalam menghadapi perubahan kehidupan dan dunia kerja.
- Penulis :
- Aditya Yohan




