HOME  ⁄  Nasional

Komdigi Lacak Sinyal Seluler untuk Bantu SAR Cari Delapan Orang yang Hilang di Selat Sunda

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Komdigi Lacak Sinyal Seluler untuk Bantu SAR Cari Delapan Orang yang Hilang di Selat Sunda
Foto: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria dalam wawancara cegat di Posko SAR di Dermaga Pantai Marina, Pandeglang, Banten, Sabtu 12/9/2026 (sumber: ANTARA/Zubi Mahrofi)

Pantau - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten.

Keterlibatan operator seluler dilakukan untuk memantau dan mendeteksi sinyal telepon seluler yang kemungkinan berasal dari orang-orang yang sedang dicari.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan koordinasi dilakukan untuk mendeteksi BTS di sekitar Selat Sunda, baik dari sisi Banten maupun Lampung.

"Kita sudah berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda, baik yang ada di wilayah Banten maupun Lampung," kata Nezar.

Pulau Sebesi Jadi Titik Kontak Terakhir

Selain melibatkan operator seluler, Komdigi melakukan pemantauan melalui Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio untuk mengetahui apabila terdapat sinyal yang tertangkap di kawasan pencarian.

Berdasarkan data telekomunikasi yang diterima Komdigi, Pulau Sebesi menjadi titik kontak terakhir yang berhasil terdeteksi.

Data mengenai kontak terakhir tersebut telah disampaikan kepada Tim SAR Gabungan sebagai informasi pendukung dalam pencarian kapal dan delapan orang di dalamnya.

"Kontak terakhir di Pulau Sebesi, sinyal dipancarkan terdeteksi di pulau itu dan sudah disampaikan Tim SAR. Data itu menjadi data penting," ungkap Nezar.

Memasuki hari kelima operasi pencarian, Tim SAR Gabungan memperluas kluster pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Sebanyak 14 kapal dikerahkan untuk menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan kapal tersebut.

Satu helikopter juga dikerahkan untuk melakukan pencarian dari udara berdasarkan titik-titik yang ditentukan melalui hasil pengolahan data Tim SAR.

"Kita terus memantau, mencari, berdoa agar proses pencarian diberikan kekuatan dan segera ditemukan delapan orang," kata Nezar.

Pencarian Udara Terkendala Kabut

Operasi pencarian melalui udara tetap berlangsung meski helikopter sempat menghadapi kabut yang membuat jarak pandang turun menjadi sekitar 1,5 kilometer.

Dengan jarak pandang terbatas, penyisiran tetap dilakukan di sejumlah titik yang diduga pernah disinggahi atau dilintasi kapal yang hilang kontak.

"Heli sudah terbang, tapi ada kabut sehingga jarak pandang rendah. Namun demikian tetap terus dilakukan pencarian di titik-titik yang diduga disinggahi atau dilintasi kapal yang sedang dicari," ungkap Nezar.

Nezar juga mengimbau masyarakat menjadikan informasi resmi Tim SAR sebagai rujukan mengenai perkembangan operasi pencarian.

"Sebaiknya informasi yang diterima adalah informasi resmi dari tim SAR," kata Nezar.

Lima Jurnalis Termasuk dalam Delapan Orang yang Dicari

Peristiwa bermula ketika rombongan jurnalis berangkat menggunakan speedboat atau kapal cepat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026.

Rombongan berangkat sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Total delapan orang masih dalam pencarian, terdiri atas lima jurnalis serta tiga orang yang terkait dengan operasional dan perjalanan kapal.

Lima jurnalis yang dicari adalah pewarta foto ANTARA Muhammad Bagus Khoirunas, Arie Basuki dari merdeka.com, fotografer lepas Donal Husni, Yudhistira dari iNews, dan Daus dari Anadolu.

Tiga orang lainnya terdiri atas seorang nakhoda, seorang anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026