
Pantau - Sembilan kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan status siaga darurat kekeringan setelah dampak musim kemarau meluas hingga menjangkau 263.310 jiwa, sementara tiga kabupaten telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sadimin mengatakan Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan status siaga darurat kekeringan menyusul kondisi yang terus meluas di wilayah tersebut.
"Ada sembilan kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan tiga kabupaten di antaranya telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat," ujarnya di Mataram, Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan pendataan sementara BPBD NTB, kekeringan telah melanda sembilan kabupaten dan kota yang mencakup 66 kecamatan serta 227 desa dan kelurahan.
Jumlah masyarakat terdampak tercatat mencapai 84.837 kepala keluarga atau 263.310 jiwa.
BPBD kabupaten dan kota bersama BPBD NTB telah mendistribusikan sebanyak 3.382.300 liter air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
"Seluruh wilayah NTB saat ini telah memasuki periode musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino. Kondisi diperparah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang kian memanjang," terang Sadimin.
Lombok Timur Catat Jumlah Warga Terdampak Terbanyak
Sebaran dampak kekeringan terparah tercatat di Kabupaten Lombok Timur dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 92.999 jiwa yang tersebar di 41 desa.
Distribusi air bersih untuk wilayah Lombok Timur berdasarkan data sementara mencapai 40 ribu liter.
Tiga daerah yang telah menetapkan status tanggap darurat adalah Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Bima.
Di Sumbawa Barat, kekeringan melanda tiga kecamatan dan delapan desa dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 1.690 kepala keluarga atau 5.795 jiwa.
Distribusi air bersih di Sumbawa Barat telah mencapai 1,35 juta liter.
Kabupaten Sumbawa mencatat kekeringan di 13 kecamatan dan 26 desa dengan jumlah masyarakat terdampak sebanyak 10.703 kepala keluarga atau 42.728 jiwa.
Air bersih yang telah didistribusikan di Kabupaten Sumbawa mencapai 640 ribu liter.
Sementara itu, Kabupaten Bima mencatat 14 kecamatan dan 42 desa terdampak dengan jumlah masyarakat mencapai 9.222 kepala keluarga atau 28.894 jiwa.
Distribusi air bersih untuk masyarakat terdampak di Kabupaten Bima telah mencapai 320 ribu liter.
Sejumlah Daerah Masih Berstatus Siaga Darurat
Kabupaten Lombok Tengah menjadi salah satu wilayah berstatus siaga darurat dengan sembilan kecamatan dan 48 desa terdampak kekeringan.
Jumlah masyarakat terdampak di Lombok Tengah mencapai 11.232 kepala keluarga atau 33.695 jiwa dengan distribusi air bersih sebanyak 460 ribu liter.
Kabupaten Dompu mencatat empat kecamatan dan 10 desa terdampak dengan jumlah masyarakat mencapai 3.235 kepala keluarga atau 8.940 jiwa.
Distribusi air bersih di Kabupaten Dompu tercatat mencapai 340 ribu liter.
Kabupaten Lombok Utara mencatat lima kecamatan dan 18 desa terdampak dengan jumlah 5.315 kepala keluarga atau 17.855 jiwa.
Sebanyak 200 ribu liter air bersih telah didistribusikan untuk membantu masyarakat terdampak di Lombok Utara.
Kabupaten Lombok Barat mencatat enam kecamatan dan 21 desa terdampak dengan jumlah masyarakat mencapai 7.474 kepala keluarga atau 27.090 jiwa.
Distribusi air bersih di Lombok Barat tercatat sebanyak 32.300 liter.
Kota Bima juga terdampak kekeringan dengan cakupan empat kecamatan dan 12 desa serta jumlah masyarakat sebanyak 1.129 kepala keluarga atau 3.287 jiwa.
"Pada peta sebaran, hampir seluruh Lombok (kecuali sebagian kecil Lombok Tengah) dan sebagian besar Pulau Sumbawa bagian timur dan barat masuk dalam zona merah atau Rencana Aksi Kekeringan," ungkapnya.
El Nino Perparah Musim Kemarau di NTB
BPBD NTB mengimbau masyarakat menggunakan persediaan air bersih secara bijak untuk mengantisipasi krisis yang lebih parah selama periode kekeringan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyebut fenomena El Nino berada dalam kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74 derajat Celsius.
Fenomena tersebut memicu curah hujan di NTB berada jauh di bawah kondisi normal hingga nyaris tidak terjadi.
"El Nino membuat musim kemarau yang biasanya kering menjadi semakin kering. Potensi hujan yang biasanya sekali turun di musim kemarau kini hampir tidak terjadi sama sekali," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini.
Kondisi musim kemarau yang semakin kering dan periode Hari Tanpa Hujan yang memanjang membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah terdampak.
- Penulis :
- Gerry Eka




