
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (KAI) berhasil menuntaskan reformasi radikal dari era gerbong semrawut hingga menjadi moda modern pada masa kepemimpinan Ignasius Jonan.
Hal ini berbanding terbalik dengan lompatan sejarah darat tersebut, sektor pelayaran nasional justru terpuruk dalam krisis usai tragedi kapal tenggelam menyisakan 120 korban jiwa terjebak di dalam lambung terbalik dan memaksa 60 kapal lain memutar alur pelayaran.
Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, menuntut perhubungan laut meniru keberanian pembenahan sistemik ala Ignasius Jonan tersebut.
Sebagai legislator DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) NTB I, Mori Hanafi menyaksikan langsung ketergantungan hidup warga kepulauan pada armada laut yang sering kali mengabaikan standar keselamatan. Ia mengenang kembali potret kelam perkeretaapian masa lalu sebelum Jonan merombak tata kelola moda ular besi tersebut.
"Dulu orang barang-barangnya, kemudian di keretanya. Bukan cuma orang naik di atapnya, tapi naik di lokomotif, di toilet dan sempit-sempitan," ungkap Mori kepada wartawan saat menghadiri diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Pengalaman panjang politisi Partai NasDem sewaktu menahkodai kursi Wakil Ketua DPRD NTB memperkuat keyakinannya perubahan moda transportasi membutuhkan ketegasan kepemimpinan dan peta jalan bertahap.
Keberhasilan Jonan mensterilkan stasiun serta menertibkan penumpang menjadi bukti nyata bahwa sistem transportasi Indonesia sanggup berubah.
"Sekarang kereta yang paling sederhana saja, itu ada hasilnya. Rapi, stasiunnya bagus," ujarnya.
Kondisi darurat di lokasi musibah laut kini menemui jalan buntu akibat nihilnya perencanaan matang pencegahan kecelakaan. Tim penyelamat Basarnas terhalang tembok teknis akibat posisi bangkai kapal yang menutup ruang manuver evakuasi.
"Basarnas sudah tidak bisa masuk karena tidak ada ruang manuver lagi untuk mengambil. Keluarnya surat dari Basarnas yang meminta kementerian untuk melakukan salvage atau mengubah posisi kapal," bebernya.
Bertugas mengawasi bidang infrastruktur dan perhubungan di Komisi V DPR RI, Mori mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mengeksekusi tindakan salvage atau pengangkatan posisi kapal guna membuka akses pencarian korban sekaligus memulihkan alur pelayaran.
"Kalau tidak diubah, tidak ada ruang manuver tim penyelamat. Walaupun hari ini ditambah lagi tim, tetap sulit untuk diperbaiki," ujarnya.
Mori mendesak pemerintah menyusun peta jalan atau roadmap pembenahan terukur dari bulan ke bulan sebagaimana reformasi KAI era Jonan daripada sekadar mengumbar janji pasca-musibah.
"Di mana-mana di pusat. Tapi kan ada tahap. Hari ini kami benahi ini, bulan depan kami benahi ini, tahun depan kami benahi ini. Ini kita enggak lihat," tukasnya.
Pembenahan validitas manifest penumpang, kelaikan kapal, serta sanksi tegas kepada operator nakal menjadi syarat mutlak memutus rantai tragedi di perairan Indonesia.
"Ini nggak cukup Dirjen yang perbaiki, terkadang Dirjen itu cuma gimmick saja," tandasnya.
- Penulis :
- Khalied Malvino




