
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 98 Zona Musim (ZOM) yang secara klimatologis memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun mengalami musim kemarau akibat pengaruh fenomena El Nino sangat kuat sepanjang 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3,4 Samudra Pasifik mencapai rata-rata +2,63 sehingga menekan pembentukan awan hujan di Indonesia.
"Secara klimatologis Indonesia memiliki 110 ZOM tipe basah sepanjang tahun. Namun pada 2026 ini sebanyak 98 ZOM diantaranya ikut terdampak kekeringan dan mengalami musim kemarau," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Sebanyak 556 Zona Masih Dilanda Kemarau
Ardhasena mengatakan sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen dari total luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau panjang.
Dampak El Nino juga memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem yang tercatat terjadi di 25 provinsi.
Durasi tanpa hujan terlama tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat juga mengalami kondisi kering dengan HTH mencapai 120 hari.
El Nino Diproyeksikan Bertahan hingga 2027
Selain El Nino, BMKG memantau indikator Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia berada pada angka positif 0,376 yang masih masuk kategori netral.
IOD diperkirakan berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir 2026.
BMKG memproyeksikan fenomena El Nino bertahan setidaknya hingga akhir kuartal pertama 2027.
Meski demikian, ancaman kekeringan di Indonesia diperkirakan berangsur berkurang seiring masuknya musim hujan secara bertahap di sejumlah wilayah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




