
Pantau - Pemanfaatan informasi iklim presisi dan penyesuaian pola tanam berhasil menyelamatkan 7.067 hektare lahan pertanian di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, dari ancaman gagal panen akibat tekanan El Nino dan musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan El Nino dan kemarau panjang pada 2026 memberikan tekanan terhadap hampir seluruh wilayah pertanian di Indonesia, khususnya lahan tadah hujan.
"Dampak El Nino dan kemarau melanda hampir seluruh wilayah Indonesia, khususnya kawasan pertanian tadah hujan. Namun melalui integrasi informasi iklim, langkah mitigasi di lapangan dapat berjalan efektif," kata dia di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Upaya adaptasi yang dikoordinasikan Kementerian Pertanian dilakukan melalui strategi intensifikasi, ekstensifikasi, program pompanisasi, serta penyesuaian pola tanam untuk menekan potensi kerugian.
Petani Pangkep Majukan Masa Tanam
Penerapan informasi iklim dilakukan petani di Pangkep dengan memajukan masa tanam setelah menerima peringatan dini BMKG mengenai percepatan awal musim kemarau.
Petani juga memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim untuk mengurangi risiko gagal panen.
"Melalui penyesuaian pola tanam berbasis prediksi iklim, wilayah Pangkep berhasil menyelamatkan lahan pertanian seluas 7.067 hektare dari ancaman gagal panen," ujarnya.
BMKG mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor pertanian menjadikan prakiraan iklim sebagai rujukan utama dalam menyusun kalender tanam guna menjaga ketahanan pangan nasional.
Musim Hujan Diprediksi Mulai Oktober 2026
BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia berakhir secara bertahap seiring masuknya musim hujan pada Oktober hingga Desember 2026, meskipun El Nino di Samudra Pasifik diproyeksikan bertahan sampai kuartal I 2027.
Puncak musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada Desember 2026 di 155 Zona Musim (ZOM) yang mencakup sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi bagian utara.
Pada Januari 2027, puncak musim hujan diprediksi bergeser ke 162 ZOM yang meliputi hampir seluruh Pulau Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan bagian barat, hingga sebagian besar Papua.
Sebanyak 140 ZOM kemudian diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027, terutama di Sulawesi bagian tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua bagian selatan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




