
Pantau - Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) menyatakan siap membantu pemerintah menangani pasien korban bencana dengan dukungan sekitar 4.500 dokter bedah yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Ketua Umum PP PABI dr. Heri Setyanto mengatakan dokter ahli bedah telah mendapatkan pendidikan mengenai penanganan trauma dan manajemen pasien untuk mendukung penanganan korban bencana.
"Kami mempunyai gelar tambahan baru, Spesialis Bedah Emergency dan Traumatologi. Setiap ada bencana pasti ada anggota kita yang di sana," katanya di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (27/9/2026).
PABI Jalin Kerja Sama Penanganan Bencana
Heri mengatakan PABI telah bekerja sama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Pusat Krisis Nasional, serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dalam penanganan korban bencana.
"Kami dokter ahli bedah ini sudah dididik untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat menangani pasien-pasien dengan life saving," ujarnya.
Menurut Heri, dokter bedah memiliki kemampuan menangani pasien terdampak bencana yang mengalami trauma, termasuk kondisi yang membutuhkan tindakan penyelamatan jiwa.
"Dokter bedah tetap menjadi leader, pemimpin untuk kasus-kasus traumatik, multiple trauma," katanya.
PABI saat ini memiliki sekitar 4.500 dokter bedah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut turut didukung sumber daya manusia dari 25 institusi pendidikan bedah di Indonesia.
"Dulunya hanya 19, sekarang ditambah dengan hospital-based dan ada institusi pendidikan bedah yang baru," ujarnya.
Persebaran Dokter Bedah Masih Jadi Tantangan
Heri mengatakan pemerataan dokter bedah masih menjadi tantangan karena persebarannya belum merata, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut dia, Kementerian Kesehatan telah berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui kerja sama dengan Kolegium Bedah dan PABI.
"Ini memang sudah diatasi oleh Kementerian Kesehatan melalui kerja sama juga dengan Kolegium Bedah dan PABI, cuma ada beberapa daerah yang memang (dokter bedah) tidak bisa menetap di situ," katanya.
Pemerataan tenaga dokter bedah diperlukan agar masyarakat di berbagai wilayah dapat memperoleh layanan bedah, termasuk ketika menghadapi situasi bencana.
- Penulis :
- Aditya Yohan




