HOME  ⁄  Nasional

Pemkab Kotim Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla hingga 15 Oktober, 2.009 Hektare Lahan Terbakar

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemkab Kotim Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla hingga 15 Oktober, 2.009 Hektare Lahan Terbakar
Foto: Bupati Kotim Halikinnor saat diwawancarai mengenai perpanjangan status tanggap darurat karhutla, Sampit, Selasa 29/9/2026 (sumber: ANTARA/Devita Maulina)

Pantau - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 15 hari, mulai 1 hingga 15 Oktober 2026, untuk mengantisipasi potensi kebakaran dan kabut asap.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta perkembangan karhutla di lapangan.

“Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan yang terjadi saat ini masih merupakan hujan hasil modifikasi atau hujan buatan. Diperkirakan pertengahan Oktober baru mulai masuk musim hujan dengan intensitas rendah hingga sedang, sehingga kami sepakat untuk memperpanjang status tanggap darurat ini,” kata Halikinnor.

Pernyataan tersebut disampaikan Halikinnor setelah memimpin rapat evaluasi penanggulangan karhutla di Sampit pada Selasa.

Rapat tersebut melibatkan berbagai instansi terkait, perangkat daerah, serta relawan yang terlibat dalam penanggulangan karhutla.

Tanggap Darurat Bisa Diakhiri jika Titik Api Hilang

Status tanggap darurat karhutla sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 30 September 2026.

Pemkab Kotim menilai kondisi cuaca dan ancaman karhutla masih membutuhkan penanganan intensif sehingga masa tanggap darurat diperpanjang hingga 15 Oktober.

Berdasarkan prakiraan BMKG, pemerintah daerah berharap curah hujan mulai meningkat ketika memasuki pertengahan Oktober sehingga membantu mengendalikan titik api dan mengurangi potensi kabut asap.

Halikinnor menjelaskan status tanggap darurat dapat diakhiri apabila hingga 15 Oktober intensitas hujan sudah cukup tinggi serta tidak ditemukan lagi titik api dan kabut asap.

“Kalau sampai 15 Oktober hujan sudah intensitasnya cukup tinggi, titik api sudah tidak ada dan asap juga tidak ada, maka kita akhiri masa tanggap darurat dan tinggal masuk tahap pemulihan,” ungkap Halikinnor.

Lebih dari 2.009 Hektare Lahan Terdampak

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim hingga 29 September 2026, tercatat sebanyak 1.176 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 2.009 hektare.

Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau dalam data tersebut mencapai 38.304 titik.

Data itu mencakup kejadian yang ditangani Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Kotim.

Tidak seluruh kejadian kebakaran dapat ditangani secara langsung oleh satgas karena terdapat sejumlah lokasi yang sulit dijangkau.

Sebagian penanganan karhutla juga dilakukan pemerintah provinsi melalui dukungan helikopter waterbombing sehingga memungkinkan adanya perbedaan antara data Pemkab Kotim dan pemerintah provinsi.

Pemkab Siapkan Pemulihan Lahan Terbakar

Halikinnor mengatakan evaluasi penanganan karhutla tidak hanya difokuskan untuk mengatasi kebakaran dan kabut asap saat ini, tetapi juga menjadi bahan penyusunan langkah pencegahan untuk menghadapi kejadian serupa.

Pemkab Kotim mulai mempersiapkan pemulihan lahan yang telah terbakar, termasuk mempertimbangkan penanaman kembali di kawasan terdampak.

Pemerintah daerah juga akan mengupayakan pengelolaan lahan kosong agar tidak menjadi kawasan yang mudah terbakar dan memicu karhutla berikutnya.

“Kami juga meminta Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan bibit dan bagaimana lahan-lahan yang terbakar maupun tanah kosong itu bisa dikelola kembali,” kata Halikinnor.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026