
Pantau - Sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan barista selama 16 hari di Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai bagian dari program SMK Go Global untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapan bekerja di luar negeri.
Instruktur Barista BLK Kabupaten Garut Aline Novita Dewi mengatakan program tersebut membekali lulusan dengan keterampilan sekaligus sertifikat yang dapat meningkatkan daya saing ketika memasuki dunia kerja.
"Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja," kata Aline dalam keterangan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Selasa (29/9/2026).
Pelatihan tidak hanya mengajarkan peserta menghasilkan minuman kopi, tetapi juga membentuk sikap dan kebiasaan yang dibutuhkan dalam dunia industri.
Peserta dibekali kedisiplinan, etika, kemampuan komunikasi, serta sikap kerja agar dapat beradaptasi ketika berada di lingkungan baru.
Peserta Jalani Pelatihan Selama 160 Jam
Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari kompetensi mulai dari pengelolaan bahan dan peralatan, penataan area kerja, penggunaan alat manual brew dan mesin espresso, pelayanan pelanggan hingga penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
Komposisi pelatihan terdiri atas sekitar 70 persen hard skill dan 30 persen soft skill untuk memperkuat kesiapan peserta menghadapi lingkungan kerja.
Pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi open kedai dengan bergantian menjalankan tugas sebagai barista, kasir, pelayan, dan pelanggan.
Simulasi tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kepada peserta menghadapi kondisi yang mendekati lingkungan kerja sebenarnya.
"Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir," kata Aline.
"Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya. Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta. Kalau kita permudah, 'kan kita tidak tahu ya nanti di tempat kerjanya seperti apa," tambah Aline.
Menurut Aline, peserta berlatar belakang SMK umumnya telah memiliki dasar kesiapan memasuki dunia kerja.
"Memang yang dari lulusan-lulusan SMK ini lebih sigap kalau bisa dikatakan. Jadi ketika praktik dan menerima materi, mereka sudah lebih paham bagaimana harus bersikap. Mereka saat belajar di SMK sudah diajarkan untuk siap bekerja, jadi ketika mendapat pelatihan di sini, mereka memang sudah siap," katanya.
"Kalau saya sebagai instruktur itu melihatnya memang berbeda dari etos kerjanya, dari mulai kedisiplinannya dan kemandiriannya. Intinya memang kalau dari lulusan SMK itu memang sudah siap untuk bekerja," kata Aline lebih lanjut.
Peserta Berlatih hingga Malam
BLK Garut menerapkan praktik dan evaluasi melalui battle barista untuk mengukur kemampuan peserta sekaligus mengetahui keterampilan yang masih perlu ditingkatkan.
Peserta yang membutuhkan tambahan latihan diberikan kesempatan menggunakan waktu di luar jam pelatihan, bahkan sejumlah peserta memilih berlatih hingga malam.
"Ada yang sampai jam delapan malam, ada juga yang sampai jam 11 malam. Karena mereka merasa, 'oh saya tertinggal'. Jadi ketika battle itu, mereka jadi bisa mengukur kemampuannya, jadi tahu mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan," lanjutnya.
Kurikulum pelatihan BLK Garut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan dengan tambahan praktik dan simulasi untuk mempersiapkan peserta bekerja di luar negeri.
Salah satu peserta lulusan SMK Negeri 1 Garut, Tiara, mengikuti program setelah memperoleh informasi melalui media sosial dan memiliki keinginan bekerja di luar negeri.
"Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional," kata Tiara saat ditemui, Kamis (17/9/2026).
Selama pelatihan, Tiara mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, resep minuman hingga manual brew, sekaligus mempersiapkan kemampuan bahasa, pemahaman budaya, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi.
Peserta lainnya, Muhammad Zaki, juga mengaku belum memiliki pengalaman sebagai barista sebelum mengikuti program tersebut.
"Saya mendapatkan informasi program ini melalui sosial media dari BP3MI Jawa Barat. Saya jadi tertarik karena saya mempunyai keinginan yang tinggi untuk menjadi seorang barista yang profesional, tentunya di luar negeri atau di kancah internasional," jelas Zaki.
Selama mengikuti pelatihan, Zaki mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan hingga pembuatan beragam minuman berbahan dasar kopi sebagai bekal memasuki dunia kerja.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





