
Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan wabah kolera, demam berdarah, dan campak tengah melanda Yaman ketika konflik serta pengungsian massal membebani layanan kesehatan di negara tersebut.
Direktur Kedaruratan Wilayah Mediterania Timur WHO Dr. Annette Heinzelmann mengatakan ribuan kasus penyakit menular telah tercatat dengan puluhan kematian.
"Kami telah mencatat lebih dari 7.780 kasus suspek kolera dengan 22 kematian, dan lebih dari 9.600 kasus demam berdarah dengan 37 kematian. Kami juga mengkhawatirkan wabah campak. Sudah ada lebih dari 22.000 kasus," kata Direktur Kedaruratan Wilayah Mediterania Timur Dr. Annette Heinzelmann.
Fasilitas Kesehatan Yaman Terdampak Konflik
Sebelum konflik di Yaman semakin memanas, hanya sekitar 60 persen fasilitas layanan medis yang beroperasi penuh.
Kemampuan fasilitas kesehatan untuk melakukan bedah trauma, transfusi darah, dan memberikan layanan perawatan intensif juga disebut sangat terbatas.
"Sembilan fasilitas atau aset medis kini rusak atau tidak dapat beroperasi, dan sebagian besar berada di dekat wilayah Taiz, Lahij, dan Al Hudaydah," katanya.
Heinzelmann mengatakan WHO membutuhkan dana sembilan juta dolar AS atau sekitar Rp161 miliar untuk mendukung upaya penanganan.
Dari kebutuhan tersebut, WHO baru menerima sekitar dua juta dolar AS atau setara Rp35,9 miliar.
Konflik Memanas sejak Pertengahan Juli
Situasi di Yaman kembali bergejolak pada pertengahan Juli setelah pasukan pro-pemerintah menyerang Bandar Udara Sanaa ketika sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang mendarat.
Kelompok Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut dan menyatakan perang terhadap Riyadh.
Houthi juga menyatakan akan terus melawan Arab Saudi sampai blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai dicabut.
Dalam perkembangan terakhir, Houthi disebut mencapai kemajuan di wilayah barat daya dan barat Yaman, termasuk menguasai pesisir Laut Merah dan permukiman di dekat Selat Bab al-Mandab.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




