
Pantau - Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Banda Aceh menegaskan tidak ada tindakan kekerasan dalam kegiatan orientasi calon taruna menyusul meninggalnya Muhammad Rasya Fadhillah (18), sementara penyebab kematiannya masih dalam penyelidikan kepolisian.
Direktur Poltekpel Malahayati Banda Aceh Andi Fiardi mengatakan kegiatan orientasi calon taruna tidak dirancang maupun dilaksanakan dalam bentuk yang mengarah pada kekerasan.
“Kegiatan orientasi tersebut tidak dirancang maupun dilaksanakan menjurus bentuk kekerasan apa pun. Demikian pula, kegiatan rutin di kampus tidak melibatkan interaksi antara senior dan junior sebagai upaya mencegah potensi terjadinya perundungan,” kata Andi Fiardi di Aceh Besar, Rabu.
Menurut pihak kampus, kebijakan tidak melibatkan interaksi antara senior dan junior dalam kegiatan rutin diterapkan untuk mencegah potensi perundungan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Rasya meninggal dunia seusai menjalani perawatan di RSUD dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh pada Minggu, 27 September.
Kepolisian sebelumnya menyebut menemukan memar dan ruam kemerahan pada tubuh Rasya, tetapi penyebab pasti kematiannya belum ditetapkan karena masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik.
Kampus Lakukan Pemeriksaan Internal
Andi menjelaskan kegiatan orientasi pembentukan karakter diikuti 251 calon taruna dan berlangsung pada 4-14 September 2026.
Kegiatan tersebut antara lain mencakup pengenalan lingkungan kampus, kuliah umum, dan latihan baris-berbaris.
Menurut pihak kampus, Rasya mulai mengalami keluhan kesehatan pada Sabtu, 26 September 2026 atau setelah rangkaian orientasi berakhir.
Poltekpel Malahayati telah melakukan pemeriksaan internal terkait meninggalnya Rasya dan menyerahkan sejumlah dokumen kepada kepolisian, termasuk data mengenai riwayat kesehatan korban.
“Kami sudah lakukan pemeriksaan internal. Tidak kami tutupi dan melindungi apa pun kalau memang dugaan tindakan kekerasan itu terjadi,” ujar Andi.
Terkait memar yang ditemukan pada tubuh Rasya, Andi mengatakan pihak kampus tidak dapat menyimpulkan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan dugaan kekerasan atau disebabkan faktor lain.
“Ini bukan kewenangan sekolah yang menentukan, nanti mungkin pihak rumah sakit atau Polresta Banda Aceh yang bisa menjawab dugaan ini,” kata Andi.
Poltekpel Malahayati menyatakan masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian dan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab kematian Rasya.
“Penyebab kematian secara medis masih menunggu hasil pemeriksaan dan visum dari pihak berwenang,” ujar Andi.
Andi juga menegaskan kampus tidak memberikan toleransi terhadap kekerasan fisik dan akan mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran.
“Kami juga tidak mentolerir adanya kekerasan apa pun. Kalau ada kekerasan langsung kami ambil tindakan,” kata Andi.
Polisi Tunggu Hasil Pemeriksaan Medis dan Forensik
Polresta Banda Aceh hingga saat ini masih menyelidiki kematian Muhammad Rasya Fadhillah.
Berdasarkan keterangan kepolisian, Rasya mendatangi Poliklinik Poltekpel Malahayati pada Sabtu, 26 September, sekitar pukul 16.21 WIB dengan keluhan demam dan nyeri tenggorokan.
Hasil pemeriksaan saat itu menunjukkan tekanan darah Rasya 131/74 mmHg, denyut nadi 104 kali per menit, dan suhu tubuh mencapai 39,7 derajat Celsius.
Rasya kemudian mendapatkan penanganan medis di Poliklinik Poltekpel Malahayati sebelum dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh setelah ruam kemerahan di tubuhnya semakin banyak.
Kepolisian telah berkoordinasi dengan dokter forensik RSUDZA untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenazah Rasya.
Pemeriksaan meliputi pemeriksaan luar melalui visum et repertum serta CT scan terhadap jenazah.
Pemeriksaan tidak dilanjutkan dengan autopsi karena keluarga Rasya tidak memberikan izin.
Kepolisian menyatakan penyebab pasti kematian Rasya masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik.
- Penulis :
- Leon Weldrick




