
Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyiapkan pertemuan lanjutan yang melibatkan imam, pemimpin rumah ibadah, dan tokoh lintas agama setelah International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 sebagai bagian dari pengembangan religious diplomacy Indonesia.
Nasaruddin mengatakan tokoh agama memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dan komunitas keagamaan.
“Imam itu ternyata adalah figur yang paling efisien dan efektif dalam berjumpa dengan masyarakat. Lima kali sehari semalam. Mereka itu tokoh masyarakat. Kalau di luar negeri, imam itu bukan hanya memimpin salat, tapi juga menjadi pemimpin umat,” ujar Menag di Kantor Antara Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Menurut Nasaruddin, pelaksanaan IGIC 2026 menunjukkan dukungan peserta terhadap pembentukan jejaring imam sekaligus sejumlah praktik kerukunan yang dikembangkan Indonesia.
“Mereka sangat memuji Terowongan Silaturahim antara Katedral dan Istiqlal. Mereka juga sangat memuji gagasan-gagasan untuk menghimpun para imam,” tuturnya.
Nasaruddin juga dipercaya secara aklamasi memimpin forum imam yang terbentuk dari konferensi tersebut.
Dialog Diperluas ke Pemimpin Lintas Agama
Setelah mempertemukan para imam, Kementerian Agama berencana memperluas dialog dengan melibatkan pemimpin rumah ibadah dan tokoh dari berbagai agama.
“Nanti setelah ini, kita akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pemimpin rumah ibadah dan tokoh-tokoh agama lainnya,” kata Menag.
Pertemuan tersebut akan diarahkan untuk memperkuat penggunaan pendekatan keagamaan dalam merespons persoalan kemanusiaan dan konflik.
Nasaruddin menyebut pendekatan itu sebagai diplomasi hati nurani yang diharapkan dapat melengkapi jalur diplomasi formal.
“Jika kita menggunakan bahasa agama dalam mengembangkan diplomasi, yaitu diplomasi hati nurani, jangan-jangan itulah yang ditunggu oleh masyarakat kita. Diplomasi formal seperti sekarang ini ternyata belum berhasil menghentikan peperangan,” ujarnya.
Menag menggambarkan dampak peperangan dengan ungkapan, “kalah jadi abu, menang jadi arang”.
Imam Didorong Jadi Mediator Perdamaian
Nasaruddin melihat imam dapat berperan sebagai mediator yang memberikan nasihat kepada pihak-pihak yang terlibat konflik dengan tetap menjaga independensi.
“Insyaallah imam akan berfungsi sebagai mediator bagi para pihak yang bertikai. Imam juga berfungsi untuk memberikan nasihat yang menyejukkan. Seorang imam tidak boleh memihak,” tegasnya.
Menurut dia, pemimpin agama juga perlu berpegang pada nilai moral dan hati nurani serta tidak memberikan pembenaran terhadap tindakan yang bertentangan dengan nilai tersebut.
Diplomasi Keagamaan Juga Soroti Lingkungan
Selain konflik dan perdamaian, Nasaruddin mengatakan religious diplomacy dapat digunakan untuk mendorong perhatian terhadap persoalan lingkungan.
Ia menilai berbagai agama memiliki nilai yang mengajarkan manusia untuk menjaga dan tidak merusak alam.
“Dengan menghimpun para imam dan juga para pemuka agama lainnya nanti, diharapkan dunia akan menjadi lebih sejuk, tenang, dan aman,” ucapnya.
“Diplomasi keagamaan yang kita gagas di Indonesia ini, jangan-jangan adalah solusi yang ditunggu masyarakat untuk menghentikan peperangan. Jangan-jangan inilah yang ditunggu masyarakat kita untuk menyetop kerusakan alam. Jangan-jangan bahasa agama ini justru yang akan melahirkan ketenangan,” pungkas Menag.
- Penulis :
- Aditya Yohan




